Sunday, 18 January 2009

Urgensi Management Qalbu

Memahami kedudukan hati sebagai penentu perilaku, Nabi bersabda :

Ketahuilah, didalam tubuh manusia terdapat segumpal darah, bila gumpalan darah itu baik maka baiklah seluruh perilakunya, tapi bila gumpalan darah itu jelek, maka rusaklah seluruh perilaku manusia, ketahuilah bahwa gumpalan darah adalah Hati.

CIRI HATI YANG SEHAT (Qalbun Salim )

- ercahaya Mukanya

- Selalu Eling dan Zikir kepada Allah SWT

- Terpelihara prilaku dari hal yang tiak benar

CARA MENCAPAI HATI YANG SEHAT :

1. Tadarus Al- Quran

2. Menuntut dan mengamalkan Ilmu

3. Ingat Mati

4. Mencontoh Rasulullah SAW

5.Berkawan dengan orang saleh

6.Menangis tatkala berkomunikasi dengan Allah SWT

7.Memperbanyak ibadah sunat

8.Banyak Dzikir dan doa

9.Merasa diawasi Allah SWT

10.Muhasabah diri ( evaluasi diri )

11.Ibadah sunggung-sungguh

12. Menghukum diri bila bersalah

CIRI-CIRI HATI YANG TIDAK SEHAT ( Qalbun Maridh )

1. Banyak maksiat

2. Beramal ogah-ogahan

3. Hudup tidak Islami

4.Jauh dari Majelis Taklim

5. Fitnah,syahwat, Syubhat

PENYEBAB HATI YANG TIDAK SEHAT

1.Melakukan hal yang sia-sia

2. Belebihan

3. Tidak menjaga pandangan

4. Tidak selektif dalam bergaul

5. Tidak cermat dalam mengkonsumsi Makanan

BAHAYA HATI YANG TIDAK SEHAT

1. Tidak kenal Allah SWT

2. Tdak Mau beribadah

3. Dikekang hawa nafsu

4. Lalai dan jahiliyah

Oleh : Ustadz Muhammad Nur, disampaikan pada Kajian Ahad II ALBHA DIY

di Masjid Amal Mulia UMY Wirobrajan Yogyakarta, 11 Januari 2009.

Diposting oleh : Ismunadji ( http://internet-marketingindonesia.Com )

Sunday, 31 August 2008

INTELEKTUAL MUDA MUSLIM SEBAGAI PILAR UTAMA BANGSA YANG BERKARAKTER[1]

Photobucket

Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.[2]

Pengantar

Pada acara pagi ini, 8 Agustus 2008, dalam rangka membersamai mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Magelang, saya diberi amanah untuk menyampaikan materi yang berkenaan dengan kaum intelektual dan masalah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam term of reference yang ditulis oleh panitia terbaca bahwa pertautan antara rasa kebangsaan dan paham kebangsaan akan melahirkan semangat kebangsaan dalam wujud nyata membela dan berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara. Semangat kebangsaan ini dapat mempersatukan segala perbedaan. Semangat inilah yang kian hari makin rapuh karena berbagai faktor internal dan eksternal bangsa itu sendiri. Lalu di manakah posisi kita, intelektual muda muslim? Apa kontribusi yang seharusnya kita dedikasikan kepada bangsa kita yang baru saja merayakan satu abad kebangkitannya?

Membaca resume TOR panitia tersebut, dalam forum ini ada baiknya saya mengajak rekan-rekan untuk kembali mendiskusikan setidaknya dua hal; menentukan starting point (munthalaq) dalam memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara serta relevansinya dengan konsep umat; dan potret seorang intelektual muda muslim sebagai pilar utama dalam mewujudkan bangsa yang berkarakter.

Spirit Bukit Shafa : Afirmasi atas Pandangan Hidup Islam

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan (kepadamu wahai Muhammad) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik!”.[3] Inilah perintah Allah s.w.t. yang mengakhiri masa dakwah sirriyah (secara rahasia, tersembunyi) sekaligus sebagai deklarasi dakwah pada tataran publik (jahriyah).

Rasululllah naik ke bukit Shafa. Dengan suara lantang beliau berseru “ya shabâhah!”. Seruan ini familiar di kalangan masyarakat Arab sebagai warning kedatangan serangan dari pihak luar. Tidak seorangpun yang lalai. Kawan dan lawan, semuanya bergegas berkumpul di hadapan manusia agung, Muhammad s.a.w. Beliau berkata:”Wahai Bani ‘Abdul Muthalib! Wahai Bani Ka’ab! Jika ku katakan kepada kalian bahwa,di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?”. Secara aklamasi mereka menjawab, “Ok, kami percaya wahai Muhammad! Sungguh kami tidak pernah mendapatimu berdusta walau sekali saja.” “Baik! jika demikian, maka ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian tentang adanya adzab yang berat.” Pernyataan tersebut segera disambut oleh Abu Lahab dengan arogan, “celaka kau wahai Muhammad! Apakah hanya untuk mengatakan itu kau kumpulkan kami di tempat ini?!. Melalui Jibril ‘alaihissalam Allah SWT menegaskan kebenaran rasulNya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya pasti binasa”[4]

Narasi sejarah ini menjelaskan hal yang sangat penting tentang worldview (al-tashawwur al-Islamy; ru’yatul Islam lil wujûd) seorang muslim dan bangsa muslim yang khas. Sebuah titik tolak peradaban universal yang kontra paganisme dan rasialisme etnik, tidak tersekat oleh kekerdilan suku, ras, masyarakat, budaya ataupun batas-batas geografis, sebagaimana universalitas Islam yang difirmankan oleh Allah SWT : “Dan tidalah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta!”.[5] Potret bangsa muslim, tidak boleh tidak, harus sesuai dengan karakteristik dasar Islam itu sendiri; Rabbaniyah (Allah Oriented pada dimensi sumber ajaran dan tujuan); insaniyah-‘alamiyah (universal dan kompatibel dengan aspek kemanusiaan pragmatis); al-‘adl al-muthlaq (berkeadilan, anti tirani dan kezaliman apa dan siapapun); al-tawâzun bayna al-fard wa al-jamâah (keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial); tsabât wa al-tathawwur (kombinasi serasi antara perkara konservatif dan kemajuan zaman).

Sirah Nabawiyah : Cermin Membangun Karakter Bangsa

Karakter secara leksikal berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain.[6] Dengan demikian, karakter bangsa berarti yang membedakan kita dengan bangsa lain pada aspek-aspek tersebut.

Karakter sebuah bangsa terbentuk melalui perjalanan hidup; pengetahuan, sistem keimanan, ideologi, pengalaman sejarah serta penilaian mereka terhadap sejumlah pengalaman tersebut. Jadi, kepribadian atau karakter bangsa merupakan hasil interaksi totalitas bangsa tersebut dengan berbagai peragkat dasar kemanusiaan yang dimilikinya. Karakter bukanlah sekedar konstruksi nalar bersama. Karakter merupakan titik akumulasi di mana nalar, kesadaran moral (konsep haq dan bathil, khair dan syarr) dan kesucian jiwa bertaut, memancarkan cahaya kehidupan dan menghadirkan pencerahan jiwa yang konstruktif bagi alam semesta, rahmatan lil’alamin.

Batasan makna karakter terbaca menginformasikan kepada kita tentang pentingnya bercermin pada sejarah, terlebih sirah nabawiyah. Rekonstruksi dan reaktualisasi pemaknaan sejarah kenabian menjadi cermin penting dalam menata ulang bangunan karakter dan kepribadian bangsa kita yang semakin hari semakin pudar. Dari perspektif ini penulis mengelaborasi karakteristik kebangsaan kita.

Ketika dakwah Rasulullah s.a.w. tak lagi terbendung dengan berbagai strategi perlawanan dan rekayasa opini publik masyarakat Arab masa itu, ditawarkan beberapa pilihan yang menggiurkan kepada Rasulullah .s.a.w.; harta, tahta dan wanita. Bahkan sampai pada opsi kompromi teologis dengan secara bergantian menyembah tuhan masing-masing. Semuanya ditolak!. Beliau dengan tegar menyatakan konsisten menjalankan ajarannya di jalur ‘kultural’ dengan menata ulang visi ketuhanan masyarakat Arab, visi kemanusiaan, visi tentang hidup dan visi tentang alam tercipta yang telah terkontaminasi sedemikian jauh dengan virus-virus paganisme dan rasialisme etnik masyarakat Arab lalu mengisinya dengan tauhid sebagaimana grand design dakwah para Nabi sebelumnya. Al-Imam Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai proses al-takhliyah qabla al-tahliyah; pengosongan diri dari segala hal yang kontradiktif dengan nilai-nilai luhur Islam sebelum berfesona dengannya.

Di sini kita belajar untuk menjadi bangsa yang kritis (critical society), bukan saja sebagai individu. Kita dituntut secara massif untuk mengkonservasi nilai-nilai fundamental keimanan, keislaman dan keindonesiaan kita di tengah serbuan pasar ideologi kontemporer yang destruktif atas kemanusiaan sejagad. Dalam konteks ini, barangkali, kita perlu melakukan perlawanan bersama atas berbagai varian neo kolonialisme dan imperialisme global yang menggerogoti organ vital kepribadian masyarakat kita; izzah sebagai bangsa muslim! Inilah inti ajaran tauhid, melawan tirani (thagut) dan reorientasi penghambaan (‘ubudiyah) hanya kepada Allah s.w.t. (tauhid). Visi kehidupan tauhidik ini berlawanan secara diametral dengan paganisme kekinian yang mengeksploitasi kemanusiaan kita. Kita sebut saja visi ini sebagai visi tauhidik.

Visi ini berimplikasi lebih jauh pada potret dan orientasi bangsa muslim yang universal dan kosmopolitan. Dalam struktur kepribadian bangsa kita, dengan perspektif kesatuan Pencipta dan ciptaan (wihdatul Khaliq wa al-khlaq) dan kesatuan kemanusiaan (wihdat al-basyariyah), manusia tidak lagi dipandang berdasarkan paradigma etnik dan religio-kultural. Tidak pula dipilah berdasarkan sosio-geografisnya. Satu-satunya parameter yang kompatibel dengan semangat tauhid ialah ketaqwaan yang aktual dalam tataran kehidupan pribadi, sosial serta berimplikasi positif pada kehidupan berbangsa dan bernegara. [7]

Wajah bangsa muslim yang kosmopolitan dan universal ditegakkan atas prinsip-prinsip moral yang menjadi konsensus bersama bagi segenap komunitas yang berada di teritorial Islam. Dalam hal ini, sekali lagi, Rasulullah s.a.w. tidak membeda-bedakan muslim-non muslim. Semua menjunjung tinggi common flatform yang telah disepakati. Lihatlah klausal-klausal yang tertera pada Piagam Madinah (mîtsâq al-Madînah), yang menurut para pakar sejarah dan tata negara merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia. Keadilan dijunjung tinggi. Hidup egaliter menjadi nuansa keseharian. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pernik-pernik peradaban kosmopolitan dan universal ini hanya dapat dicapai oleh Islam, mengungguli peradaban-peradaban besar lainnya di dunia. Rasulullah s.a.w. menegaskan kehancuran umat terdahulu karena mempermainkan keadilan. Keadilan meletakkan manusia sejajar, tanpa memandang status dan jabatan. [8]

Pada tataran relasi antar-manusia dengan ragam keyakinan yang bebeda, Al-Qur’an Al-Karim mengajarkan kita untuk tidak menjadi masyarakat yang kerdil, tidak ekslusif sebagaimana doktrin rasialisme kaum Yahudi “the people of God” (sya’bullâh al-mukhtâr).[9] Bahkan dalam tataran keyakinan sekalipun, Islam tak pernah menerapkan ‘paksaan’ dan intimidasi teologis sebagaimana fakta sejarah abad Pertengahan dalam kehidupan Gereja. Islam mengajarkan toleransi yang luhur atas dasar tanggungjawab di hadapan Allah s.w.t. [10]

Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Ini pula yang berimplikasi pada kohesivitas antar kelompok dan individu, terlebih sesama kaum beriman sebagaimana dicontohkan dalam catatan mu’âkhât (persaudaraan) Muhajirin dan Anshar.

Kohesivitas individu dan sosial generasi awal (salaf) di masa Rasulullah s.a.w yang sangat kokoh karena frekuensi dan basis spiritual yang sama di antara mereka. Modal spiritual (quwwah rûhiyah) ini pula yang dicatat oleh sejarah dalam membangun awal peradaban Islam yang agung. Peradaban dengan visi Uluhiyah yang sangat kental. Pembangunan dua masjid; Quba’ dan Nabawi menjadi saksi sejarah kokohnya basis spiritual tersebut. [11]

Terakhir, bangsa muslim adalah bangsa apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Dengan penalaran yang lain, dapat dijelaskan bahwa ajaran Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah s.a.w. mengevakuasi manusia dari keterpurukan “fase mitologi” menuju fase bermartabat yang berbasis ilmu dan pengetahuan. [12]Dari perspektif ini kita memahami dengan baik bahwa arpresiasi dan pujian sebagai “Ulul Albab[13] dapat diraih tatkala segala potensi akal dan spiritual yang kita miliki didedikasikan untuk memahami ayat-ayat atau tanda keagungan Allah s.w.t., bukan untuk dimitoskan, apalagi disembah. Wahyu pertama “Iqra’” memberikan landasan kokoh terhadap dinamika ilmu pengetahuan dalam sejarah panjang peradaban Islam kemudian. Cermati pula kisah ahlu shuffah yang setia menimba ilmu setiap saat kepada Rasulullah s.a.w. Di sini kita memahami bangsa muslim ialah bangsa dengan etos ilmu yang tinggi.

Peran Intelektual Muda Muslim

Islam memandang pemuda sebagai penopang pilar utama transformasi sebuah bangsa. Lihatlah Rasulullah s.a.w. Pada usia 15-20 tahun beliau telah terlibat berbagai peristiwa militer dan memainkan peran diplomatik penyelesaian sengketa masyarakat Arab. Bahkan pada usia yang sangat dini (12 tahun), beliau melakukan perjalanan bisnis ke Syam (Syria). Ini pengalaman perjalananan internasional. Beliau bertemu dengan Pendeta Buhaira yang meramalkan kenabiannya, sesuai dengan apa yang tertera di Kitab Sucinya. Sinopsis kehidupan seperti ini telah membentuk konsep diri dan peran strategis beliau dalam narasi panjang sejarah peradaban Islam.

Al-Qur’an juga bercerita kepada kita tentang Ashab al-Kahfi yang tangguh.”Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk[14].

Al-Qur’anpun berkisah tentang pemuda Ibrahim a.s. yang bermental baja dalam membasmi berhala, tapi juga sosok yang sangat santun dalam berdialog dengan kaumnya. Beliau penjadi pilar utama perubahan kaumnya, bahkan menjadi sentral perhatian kaumnya,”Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim".[15] Demikian pula tentang sosok Nabiyaullah Ismail a.s. dan nabiyullah Yusuf a.s. Mereka adalah pemuda-pemuda tangguh dan tokoh transformasi umatnya.

Dengan demikian sesungguhnya kita memiliki pijakan historis berdasarkan penuturan Al-Qur’an yang terbuktikan, bukan sekedar apologi teologis yang romantis. Maka, visi tauhidik yang telah penulis sampaikan pada bagian terdahulu hendaklah dapat mentransformasikan setiap individu di antara kita untuk hadir di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kontribusi terbaik serta karakter mulia yang membebaskan kita dari segala kungkungan dan tirani sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan tirani intelektual itu sendiri. Semua itu dapat kita rumuskan pada atribut intelektual muda muslim berikut ini : Pertama, memahami dan berpegang teguh pada ajaran tauhid serta komitmen yang utuh kepada Allah s.w.t. (Islamic world-view, a-tashawwur al-Islamy). Kedua, menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah s.w.t. Dalam konteks masyarakat manusia, penolakannya itu berarti emansipasi dan restorasi kebebasan esensialnya dari seluruh belenggu buatan manusia, supaya komitmennya pada Allah menjadi utuh dan kukuh. Ketiga, ia bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, adat-istiadatnya, tradisi dan paham hidupnya. Bila dalam penilaiannya ternyata terdapat unsur-unsur syirik dalam arti luas, maka ia selalu bersedia untuk berubah dan mengubah hal-hal itu agar sesuai dengan pesan-pesan ilahi. Manusia-tauhid adalah progresif karena ia tidak pernah menolak setiap perubahan yang positif. Ia berinteraksi dengan berbagai produk budaya dan peradaban asing yang antagonis dengan Islam.Keempat, tujuan hidupnya amat jelas. Kelima, visi kehidupan yang jelas tentang kehidupan yang akan dibangun bersama manusia lainnya; hablun minallah dan hablun minannas (keseimbangan dimensi vertikal dan horisontal).Keenam, seorang intelektual muda muslim harus terlibat aktif dalam transformasi masyarakat, tidak menjadi tawanan menara gading yang jauh dari penderitaan umatnya.[16] Wallahu A’lam bi al-shawab.



[1] Makalah disampaikan pada acara “Sepekan Bersama Mahasiswa Baru 2008 Universitas Muhammadiyah Magelang”, Jum’at 8 Agustus 2008.

[2] Anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Periode : 2005-2010/Direktur Lembaga Bahasa Arab & Studi Islam “Mahad Ali Bin Abi Thalib” Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[3] QS. Al-Hijr [15] : 94

[4] HR Bukhari-Muslim

[5] QS Al-Qalam [68] : 52

[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), cet ke-4, hal. 445

[7] Al-Hujurat : 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Baca pula Alu ‘Imran : 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

[8] HR Bukhari Muslim

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ, لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

يا أيها الناس ! إن ربكم واحد و إن أباكم واحد ، ألا لا فضل لعربي على عجمي ولا عجمي على عربي و لا أحمر على أسود و لا أسود على أحمر إلا بالتقوى ( إن أكرمكم عند الله أتقاكم )، ألا هل بلغت ؟ قالوا : بلى يا رسول الله ! قال :فيبلغ الشاهد الغائب (رواه البيهقى وصححه الألباني)

[9] Q.S. Al-Mumtahanah : 8-9

لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

[10] Q.S. Al-Baqarah : 256

لَاإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Lihat pula Q.S. Al-An’am : 108

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون

[11] Q.S. Al-Taubah : 108-109

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ. أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين

[12] Perhatikan respon Rasulullah s.a.w ketika mendapat informasi tentang sikap sebagian sahabat tentang gerhana yang terjadi (HR Bukhari-Muslim) :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا."وفى رواية : فَاذْكُرُوا اللَّه

[13] Lihat Q.S. Alu Imran : 90-91

[14] Q.S. Al-Khf : 13

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

[15] Q.S. Al-Anbiya’ : 60 قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

[16] Q.S. Al-Tawbah : 128

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيم

Saturday, 2 August 2008

Melihat Allah SWT di Dunia & Akherat

Risalah Pengajian Sabtu Pagi

Melihat Allah SWT di Dunia & Akherat

{ رُؤْ يـَـــةُ اللهِ فى الدُّنْيَاوَالآخِرَة}

Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.

Mungkinkah kita melihat Allah SWT di dunia dan di akherat?

Inilah pertanyaan yang telah melahirkan polemik dan perdebatan berkepanjangan di kalangan ahli Kalam (Mutakallimun, Teolog Muslim) dalam sejarah pemikiran Islam. Risalah ini tidak bertujuan untuk mendiskripsikan seluruh perdebatan teologis tersebut. Pemaparan karakteristik iman dalam Islam dalam Risalah terdahulu dapat menjadi pedoman menentukan sikap terbaik, bijak dan lebih ‘aman’ dari pada sekedar mubeng pada wacana dan pemikiran teologis, yang seringkali tidak berujung.

Perbincangan seputar ‘ru’yatullah’ adalah perbincangan tentang sebagian Asma’ & Shifat Allah SWT yang tentunya bersifat ghaiby dan tawqify, oleh karena itu akal tak berotoritas untuk menjelaskannya lebih jauh kecuali sebatas apa yang diterangkan oleh ‘nash’ (teks Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW). Mari kita cermati rumusan kaum Salaf tentang tauhid Asma’ & Shifat berikut ini:

“Pengakuan dan kesaksian yang tegas tentang Nama-nama Yang Baik dan Shifat-shifat Yang Agung bagi Allah SWT sesuai dengan apa yang diterangkanNya dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam Sunnah, tanpa disertai ‘tamtsil’ (perumpamaan), ‘tasybih’ (penyerupaan), ‘ta’thil’ (penafian), ‘tahrif’ (penyimpangan) dan ‘takyif’ (penentuan bentuk atau hakekatnya).”[1]

Rumusan tertera berdasarkan pada firman Allah SWT :

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan ia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”[2]

Batasan makna di atas mengajarkan kita tentang satu substansi bahwa, permasalahan Asma’ & Shifat bersifat informatif murni (khabar), yang berkisar pada dua hal; negasi (nafyu) dan afirmasi (itsbat) dari sisi Allah SWT serta dapat disikapi oleh penerima pesan (mukhathab) dengan dua sikap pula; membenarkan (tashdiq) atau mendustakan (takdzib). Mengapa demikian? jelas, karena ini merupakan informasi murni tentang perkara-perkara yang wajib dimiliki oleh Allah SWT dari tauhid dan kesempurnaan sifat serta segala sesuatu yang mustahil bagiNya; syirik, sifat kekurangan dan penyerupaanNya dengan yang sesuatu yang tercipta (makhluq).[3]

Inilah landasan dan prinsip yang kita pegang teguh dalam permasalahan ru’yatullah yang dipegang teguh oleh kaum Salaf, generasi awal Islam.

Selanjutnya mari kita cermati Petunjuk Allah SWT dalam surat Al-Qiyamah : 22-23 di bawah ini :

{ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ }

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat.”

Apa makna “melihat” (ru’yah) dalam ayat terbaca di atas; apakah melihat dengan mata apa adanya ataukah melihat bermakna metaforis (majazi), sehingga ayat ini tidak bermakna hakekat yang sesungguhnya (haqiqi) ? Mari kita cermati baik-baik penjelasan ini.

Secara redaksional, tampak jelas, ru’yah di sini bermakna ‘melihat Allah SWT dengan mata kepala’. Dari sudut pandang kaidah bahasa Arab, sedikitnya menjelaskan tiga hal; pertama, kata melihat dalam ayat tersebut diidlafahkan kepada wajah; kedua, kata “نَاظِرَةٌ” yang merupakan bentuk ism fa’il dari kata kerja “نَـظَرَ” (melihat) berfungsi sebagai kata transitif dengan imbuhan “إلى” (ke) yang mengindikasikan ‘penglihatan mata’; dan ketiga, tidak adanya indikasi radaksional (faktor pendukung) yang menunjuk kepada makna yang bukan sesungguhnya ( haqiqi).[4]

Ada baiknya kita perhatikan variasi penggunaan kata “نَـظَرَ” (melihat) di dalam Al-Qur’an serta maknanya masing-masing :

· Jika digunakan tanpa imbuhan kata bantu lain maka, “نَـظَرَ” bermakna “التوقف والانتظار” (berhenti dan menanti), seperti ayat berikut ini :

{يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آَمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ}

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu." Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.[5]

· Jika digunakan dengan imbuhan kata bantu “في” maka, “نَـظَرَ” bermakna “التفكروالاعتـبار” (merenungkan dan mengambil pelajaran, ‘ibrah), seperti ayat berikut ini :

{أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ}

Dan apakah mereka tidak merenungkan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?[6]

· Jika digunakan dengan imbuhan kata bantu “إِلىَ” maka, “نَـظَرَ” bermakna “المعاينة بالأبصار” (penglihatan dengan kasat mata), seperti ayat berikut ini :

{وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ}

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Lihatlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”[7]

Makna ru’yah yang tertulis pada surat Al-Qiyamah : 22-23 sepadan dengan kata ru’yah pada bagian terakhir di atas. Apalagi jika dihubungkan dengan kata ‘wajah’, bagian dari organ tubuh kita, di mana mata berada di sana maka maknanya dapat dipastikan sebagai melihat dengan mata.[8]

Ibnu ‘Umar RA menafsirkan “إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ” melihat kepada Wajah Allah SWT. Al-Hasan menyatakan, melihat kepada Rabb-nya lalu ia berseri-seri dengan cahayaNya. Ibnu Abbas RA juga mengatakan, “melihat kepada Wajah Rabbnya azza wa jalla.” Yang demikian juga diriwayatkan dari Ikrimah RA.[9]

Ibnu Katsir rahimahullah[10] menafsirkannya sebagai penglihatan kasat mata sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya :

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا"

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan kasat mata.”[11]

Demikian pula penegasan Rasulullah SAW tentang ru’yatullah dalam hadis-hadis shahih berikut ini :

عن أبي هريرة : أَنَّ النَّاسَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَلْ تُضَارُّونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ" قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:" فَهَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ" قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:" فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ"

Dari sahabat Abu Hurairah RA, sesungguhnya orang-oranb bertanya kepada Rasulullah SAW : ”Wahai Rasulullah apakah kita melihat Rabb kita pada hari kiamat?”. Rasulullah balik bertanya :”Apakah kalian celaka dengan melihat rembulan di malam purnama?. Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah!.” Rasulullah kembali bertanya :”Apakah kalian celaka melihat matahari yang tak terhalangi awan?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah!.” Rasulullah SAW bersabda :”Maka sesungguhnya kalian akan melihaNya demikian.”[12]

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ فَقَالَ:"إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا ثُمَّ قَرَأَ {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ}

Sahabat Jarir Ibn Abdillah RA mengisahkan, suatu malam pada tanggal empat belas, kami duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau melihat rembulan dan bersabda :”Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat (rembulan) ini, kalian tak terhalangi oleh suatu apapun dalam melihatnya, maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan menunaikan shalat sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, maka lakukanlah.”[13]

Dalam munajat di akhir shalat sebelum salam, Rasulullah SAW melantunkan :

اللهم بِعِلْمِكَ اْلغَيْبَ؛ وَقُدْرَتِكَ عَلىَ الْخَلْقِ؛ أَحْيِنيِ مَا عَلِمْتَ اْلحَيَاةَ خَيْرًا ليِ؛ وَ تَوَفَّنيِ إِذَا عَلِمْتَ اْلوَفَاةَ خَيْرًا ليِ؛ اللهم إِنّيِ أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فىِ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ؛ وَأَسْأَلُكَ كَلِمَـةَ الْحَقِّ فىِ الرِّضَاوَاْلغَضَبِ؛ وَأَسْأَلُكَ اْلقَصْدَ فىِ اْلغِـنىَ وَاْلفَقْرِ؛ وَأَسْأَلُكَ نَعِيْـمًا لاَيَنْـفَدُ؛ وَأَسْأَلُكَ قُـرَّةَ عَيْنٍ لاَتَنْقَطِعُ؛ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ اْلقَضَاءِ؛ وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ اْلعَيْشِ بَعْدَ اْلمَوْتِ؛ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلىَ وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلىَ لِقَائِكَ فىِ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْـنَةٍ مُضِلَّةٍ؛ اللهم زَيِّنـَّا بِزِيْنَـةِ اْلإِيْـمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْـنَ.

“Ya Allah (sungguh aku mohon kepada-Mu) dengan Ilmu-Mu tentang segala yang ghaib dan kemahakuasaan-Mu untuk menciptakan; hidupkanlah aku bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku; dan matikanlah aku bila Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku; ya Allah sungguh aku mohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu ketika aku berada dalam keadaan sembunyi/tidak terlihat ataupun dalam keramaian/dilihat oleh orang lain; aku mohon kepada-Mu (untuk tetap teguh) pada “kalimat yang haq” ketika aku berada dalam keadaan rela ataupun marah; aku mohon kepada-Mu sikap sederhana dalam keadaan kaya dan miskin; aku mohon kepada-Mu keni’matan yang tidak habis; aku mohon kepada-Mu “perhiasan mata” (ketenteraman/kedamaian) yang tiada terputus; aku mohon kepada-Mu “sikap ridla” (rela, menerima dengan tulus ikhlas) atas segala taqdir yang telah engkau gariskan untukku; aku mohon kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan (sejuk) setelah kematian; aku mohon kepada-Mu agar aku dapat merasakan keni’matan memandang “Wajah-Mu”; kuaku mohon kepada-Mu “rasa rindu yang mendalam” untuk bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan (fisik dan agama) ataupun fitnah yang menyesatkan; ya Allah hiasilah kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang dapat memberi petunjuk (kepada jalan yang lurus) serta mendapat hidayah dan bimbingan-Mu.” [14]

Pada bagian lain, Allah SWT berfirman :

{وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ. غَيْرَ بَعِيدٍ هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ. مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ. ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ. لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}

Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.[15]

Pada bagian terakhir rangkaian lima ayat di atas (QS. Qaf 31-35) terbaca “dan pada sisi Kami ada tambahannya”. Sahabat Ali Bin Abi Thalib dan Anas bin Malik RA menafsirkan “النظر إلى وجه الله عزوجل” (melihat Wajah Allah ‘Azza wa Jalla).[16] Sepadan dengan firman Allah di bawah ini :

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَ زِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.[17]

Al-Imam Abu Al-‘Izz dalam kitabnya Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah menjelaskan “al-husna” bermakna ‘surga’ dan “al-ziyadah” bermakna ‘melihat Wajah Allah Yang Maha Mulia’.[18] Penafsiran ini berdasarkan pada keterangan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut :

عَنْ صُهَيْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ {لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ }[19]

Diriwayatkan oleh sahabat Shuhaib RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Jika penghuni surge telah masuk ke dalam surge, Allah SWT bertitah, ‘Kalian menginginkan sesuatu yang saya tambahkan untuk kalian?.’ Mereka menjawab :’Bukankah telah Engkau jadikan wajah-wajah kami bersinar, bukankah telah Engkau masukkan kami ke dalam surga dan engkau selamatkan kami dari neraka?’. Lalu Ia membuka tabir, maka sungguh mereka tidak dikaruniakan sesuatu yang lebih mereka cintai dari pada melihat kepada Rabb mereka.” Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat Allah SWT “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya”.[20]

Al-Hakim (w. 405 H) , penulis Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, meriwayatkan bahwa Rabi’ Ibn Sulaiman (sahabat Imam Syafi’i, w. 270 H) menghadiri majelis Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau ditanya tentang makna ayat 15 pada surat Al-Muthaffifin :

{كَلاَّ إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang yang mendustakan hari kemudian) pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka”

Beliau menjawab :

"لمَاَّ أَنْ حُجِبَ هَؤُلاَءِ فىِ السَّخَطِ، كَانَ فىِ هَذاَ دَلِيْلٌ عَلىَ أَنَّ أَوْلِيَاءَهُ يَرَوْنَهُ فىِ الرِّضَا"[21]

“Ketika orang-orang yang mendustakan hari kemudian dan mendustakan Al-Qur’an terhalangi (melihat Allah SWT) dalam kemurkaan, maka ini menjadi satu petunjuk (dalil) bahwa para kekasihNya melihatNya dalam keridlaan.”

Dari penjelasan ini kita meyakini dengan sesungguhnya bahwa, ru’yatullah (melihat Allah SWT) secara haqiqi merupakan keniscayaan bagi orang-orang beriman, dan bukan sesuatu yang bersifat metaforis atau majazi. Sebagaimana orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah SWT terhalang melihatNya.

Meskipun demikian, perlu disampaikan di sini bahwa tidak semua umat Islam meyakini seperti terbaca di atas. Mu’tazilah umpamanya. Sebagai pelopor aliran rasionalisme dalam Islam yang bercirikan mengedepankan akal di atas nash menolak pemahaman ru’yatullah di atas. Alasan terpentingnya ialah makna firman Allah SWT di bawah ini :

{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ}

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”[22]

Pada ayat tertera “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Aliran Mu’tazilah berpandangan tidaklah mungkin bagi kita untuk melihat Allah SWT. Lalu bagaimana kita menjelaskannya?[23] Pertama : Ayat tersebut menceritakan tentang seorang yang mulia di sisi Allah SWT, Nabi Musa ‘alaihissalam. Beliau dikenal sebagai “كليم الله” (seorang hamba yang dianugerahi Allah SWT untuk berbicara langsung denganNya). Sebagai seorang nabi pada masanya, beliau adalah orang paling berilmu tentang Rabbnya. Tentunya amatlah mustahil beliau memohon kepadaNya sesuatu yang tidak diperkenankanNya.

Kedua, tidak tertera pada ayat tersebut pengingkaran Allah SWT terhadap permohonan Nabi Musa ‘alaihissalam. Jika Allah tidak berkenan atas suatu permohonan nabiNya, secara eksplisit dijelaskanNya hal tersebut. Contohnya ialah, ketika nabi Nuh ‘alaihissalam memohon kepadaNya agar anaknya diselamatkan oleh Allah, beliau ditegur. Perhatikan ayat ini :

{وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ. قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ}

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”[24]

Ketiga, perhatikan redaksi ayat tersebut dengan seksama. Allah mengatakan “لَنْ تَرَانِي” (Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku). Dia tidak mengatakan “إني لاَ أ ُرَى” (sesungguhnya Aku tidak terlihat). Sangat jelas perbedaan makna antara kedua ungkapan ini. Umpamanya begini. Kita sedang menggenggam batu. Seseorang dari kejauhan menyangkanya makanan, lalu ia bilang “beri aku makanan itu!”(أطعِمْنيـهِ). Tentu kita jawab “sungguh benda ini tidak dapat dimakan “ (إنه لايـؤكل). Tapi jawaban kita akan berbeda, jika yang di genggaman kita tadi makanan sungguhan, dan orang yang memintanya tidak dapat memakannya karena satu alasan tertentu. Kita akan mengatakan “engkau tidak akan memakannya!” (إنك لن تأكله). Secara redaksional, ayat ini menunjukkan Allah SWT sebagai dzat yang dapat “Dilihat” (مَرْئِــيّ) akan tetapi Nabi Musa ‘alaihissalam tidak mempu melihatNya di dunia ini karena kelemahan potensi penglihatan manusia.

Keempat, Kalam Allah SWT “وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ” (tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya [sebagai sediakala] niscaya kamu dapat melihat-Ku) mengajarkan kita bahwa, bukit dengan kekokohannya tidak dapat bertahan ketika Allah hendak menampakkan DiriNya. Apalagi kita, manusia ini, yang tercipta dalam keadaan lemah tak berdaya.

Kelima, lanjutan ayat tersebut “فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا” (Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh) menerangkan bahwa tidak mustahil bagi Allah untuk melakukan ‘tajalli’ (menampakkan DiriNya), padahal bukit adalah benda mati yang tidak berpahala, tapi juga tidak berdosa! Tentunya Musa ‘alaihissalam sebagai hambaNya yang termulia, termasuk juga para kekasih Allah yang lain, lebih memungkinkan untuk menyaksikan ‘tajalli’ yang dimaksud, tapi sekali lagi, di dunia karena kelemahannya manusia tak mampu mengalaminya.

Keenam, menurut Mu’tazilah kata “لَنْ” pada ayat tersebut fungsional sebagai penafian yang bersifat abadi, termasuk di akherat kelak. Pernyataan ini tidak benar berdasarkan bukti penggunaannya dalam Al-Qur’an. Perhatikan redaksi ayat-ayat yang digaris bawahi berikut ini,

{قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآَخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ. وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ}

Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.[25]

{وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ}

Mereka berseru: "Hai Malik (penjaga neraka) biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).[26]

Pada kelompok ayat pertama, Imam Syaukani[27] menjelaskan demikian. Ketika orang-orang Yahudi dan Nashrani mengklaim hanya mereka saja yang pantas masuk surga. Oleh karenanya mereka ditantang untuk mencita-citakan kematian secepatnya. Tentu, bagi orang yang sangat yakin pasti masuk surga tak hendak memperlama hidup di dunia, surga lebih mereka sukai. Namun Allah jelaskan pada ayat berikutnya “وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا” (Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya) karena faktor dosa-dosa mereka.

Lalu perhatikan kelompok ayat kedua, “لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ” (biarlah Tuhanmu membunuh kami saja ). Ketika para pelaku dosa dan kriminal mendapat siksaan yang teramat pedih, mereka tak lagi sanggup untuk menerimanya berlama-lama. Mereka bertawassul dengan Malaikat Malik, Penjaga Neraka, agar Allah membinasakan mereka saja supaya terbebaskan dari siksa neraka yang amat pedih itu.[28]

Bila kedua kelompok ayat terbaca di atas disandingkan, lalu kita analisa dengan baik, tampak jelas penggunaan kata لَنْ” pada uangkapan وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ” yang jelas-jelas dibatasi dengan kata “أَبَدًا” (bermakna abadi), tidak menunjukkan keabadian dan kekekalan mutlak. Buktinya ialah pada kelompok ayat kedua justeru para pelaku dosa, termasuk Yahudi dan Nashrani mohon kepada Allah SWT melalui malaikatNya Malik agar mereka dimatikan saja “لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ” (biarlah Tuhanmu membunuh kami saja). Fakta ini mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an menggunakan kata لَنْ” yang tidak berkonotasi kekekalan atau keabadian.

Di sisi lain, jika kata لَنْ dalam Al-Qur’an menunjuk kepada makna kekekalan dan keabadian, tentunya tidak boleh dibatasi dengan batasan tertentu. Misalnya dalam ayat ini,

{فَلَمَّا اسْتَيْئَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّى يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ}

Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.[29]

Akhirul Kalam. Perdebatan umat pada masalah ru’yatullah sejatinya ialah perdebatan tentang Asma’ dan Shifat-ShifatNya, (Nama-Nama Allah SWT dan Shifat-ShifatNya Yang Agung). Perlu kita ingat dengan baik, perebatan semacam ini telah memposisikan Yahudi dan Nashrani dalam pertarungan iman yang tak berakhir. Masing-masing mengklaim kebenaran yang mutlak. Ketika Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan oleh Ibundanya Maryam ‘alaihassalam tanpa proses biologis yang semestinya (dalam penalaran manusia) diyakini oleh penganut Nashrani sebagai Anak Tuhan, sementara penganut Yahudi menegaskannya sebagai anak zina.[30] Tentunya kita tak hendak terjerumus dalam kekeliruan yang sama seperti munajat kita (Al-Fatihah : 6-7) di setiap shalat. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيــمَ. صِرَاطَ الَّذِيـنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْــهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْــهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}



[1] Lihat, Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, al-Madkhal li Dirasat al-Aqidah al-Islamiyah ‘ala Madzhab ahl al-sunnah wa al-Jama’ah, (Riyadl: tp., tt. ), Cet. hal. 90., Syaikh Muhammad Ibn Shalih Ibn al-‘Utsaymin, Taqrib al-Tadmuriyiyah (Al-Qahirah: Maktabh al-Sunnah, 1413), Cet. I, hal.19.

[2] Q.S. Al-Syura : 11

[3] Ibid., hal. 17

[4] Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah, Tahqiq : Syu’aib al-Arna’uth (Beirut: Mu’assasah Risalah, 1417), Cet. 9, Jilid I, hal. 209., Bandingkan dengan, Abu al-Hasan al-Asy’ary, Al-Ibanah ‘An Ushul al-Diyanah, Tahqiq : Basyir Muhammad ‘Uyun (Riyadl: Maktabah al-Mu’ayyid, 1413), Cet. IV, hal. 58-63., Al-Imam Abu Muhammad ‘Abd al-Jalil al-Qushary, Syu’ab al-Iman, Tahqiq : Sayyid Kasrawy Hasan (Makkah al-Mukarramah : Maktabah Dar al-Baz, 1416), Cet. I, hal. 628-631

[5] Q.S. Al-Hadid : 13

[6] Q.S. Al-A’raf : 185

[7] Q.S. Al-An’am : 99

[8] Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah…I/209

[9] Ibid., hal. 210

[10] Ibnu Katsir, Tasir al-Qur’an al-‘Adzim (Madinah : Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 1413), IV/450

[11] HR Bukhari (Bab : Firman Allah “وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ Jilid 22/445, lihat al-Maktabah al-Syamilah )

[12] HR.Bukhari (Dalam Shahihnya, bab : Firman Allah “وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ 22/447. Juga oleh Imam Muslim dalam bab :” معرفة طريق الرؤية”, 1/425. , Lihat al-Maktabah al-Syamilah)

[13] HR. Bukhari (Dalam Shahihnya, bab : “وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ”, 15/89)

[14] Al-Nasa’iy III/54 dan 55; Ahmad IV/364 dan di-shahihkan oleh Albany dalam Shahih al-Nasa’iy I/281. Lihat Sa’id ibn Ali ibn Wahf al-Qahthany, Hishn al-Muslim min Adzkar al-Kitab wa al-Sunnah (Riyadl: Muassasat al-Juraisi, 1424), Cet. Ke-29, hlm. 43-45.

[15] Q.S. Qaf : 31-35

[16] Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah…I/210

[17]Q.S. Yunus : 26

[18] Ibid., hal. 211

[19] Q.S. Yunus : 26

[20] HR Muslim (kitab :” إثبات رؤية المؤمنين فى الآخرة ربهم”. Lihat pula, Shahih Ibnu Majah dan Shahih al-Tirmidzi, Al-Maktabah al-Syamilah)

[21] Diriwayatkan Oleh Al-Baihaqi dalam kitab Al-Manaqib I/419. Lihat, Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah…I/212

[22] Q.S. Al-A’raf : 143

[23] Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah…I/213-214

[24] Q.S. Hud : 45-46

[25] Q.S. Al-Baqarah : 94-95

[26] Q.S. Al-Zukhruf : 77

[27] Al-Syaukani, Fath al-Qadir, I/143. Lihat, al-Maktabah al-Syamilah.

[28] Al-Syaukani, Fath al-Qadir, VI/417. Lihat, al-Maktabah al-Syamilah

[29] Q.S. Yusuf : 80

[30] Silahkan renungkan ayat-ayat Al-Qur’an, Al-Ma’idah :73-76, Maryam : 16-28 dan Taubah : 30-31

Saturday, 12 July 2008

Makna dan Karakteristik Iman Dalam Islam

Makna dan Karakteristik Iman Dalam Islam
Risalah Pengajian Sabtu Pagi

Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.

Pengertian iman; etimologis dan terminologis

Secara etimologis, iman berarti membenarkan dengan hati. Adapun secara istilah syar’iy, Al-Imam Ibnu Taymiyah, dalam kitabnya Al-Iman, menukil beberapa definisi “iman” yang dipahami oleh generasi Salaf. Diantaranya sebagai berikut; ونية الإيمان قول وعمل”(iman ialah perkataan, perbuatan dan niat). Penyebutan kata ‘niat’ secara eksplisit bermaksud untuk menjelaskan bahwa tidak semua perbuatan selalu dipahami sebagai “niat”. Sebagian yang lain berpendapat “وعمل ونية واتباع السنة الإيمان قول (iman ialah perkataan, perbuatan, niat dan mengikuti sunnah). Di sini secara tegas disebutkan “ Ada pula yang mengatakan “قول باللسان واعتقاد بالقلب وعمل بالجوارح” (iman ialah perkataan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan perbuatan dengan organ tubuh). Agar lebih jelas, ada baiknya kita nukil jawaban Sahl Ibnu Abdillah Al-Tastury, ketika beliau ditanya tentang iman. Beliau menjawab demikian :

"قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّـةٌ وَسُنَّـةٌ، اْلإِيْمَانُ إِذَا كَانَ قَوْلاً بِلاَ عَمَلٍ فَهُوَ كُفْـرٌ، وَإِذَا كَانَ قَوْلاً وَعَمَلا ًبِلاَ نِيَّـةٍ فَهُوَ نِفَاقٌ، وَإِذَا كَانَ قَوْلاً وَعَمَلاً بِلا َسُنَّـةٍ فَهُوَ بِدْعَـةٌ"[1]

(Iman ialah perkataan, perbuatan, niat dan sunnah. Iman, jika hanya perkataan tanpa perbuatan maka itu kekufuran; jika hanya perkataan dan perbuatan tanpa disertai dengan niat maka itu kemunafikan; jika hanya perkataan dan perbuatan tanpa mengikuti sunnah maka itu adalah bid’ah)

Al-Imam Syafi’i rahimahullah meriwayatkan ijma’ para sahabat, tabi’in dan mereka yang sezaman dengan beliau tentang pengertian iman sebagai berikut :

تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ, وَإِقْـرَارٌ بِالِّلسَانِ, وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ[2]

Maksudnya “membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan organ tubuh”. ‘Tashdiqun bi al-qalbi’ yaitu meyakini dan menerima segala apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. ‘Iqrar bi al-lisan’, mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat). ‘Amalun bi al-arkan’ berarti hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, dan organ tubuh yang lainnya mengamalkan dalam bentuk ibadah praktis individu dan social, sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Pemaknaan iman terbaca di atas sama sekali berbeda dengan kaum Murjiah yang menyatakan iman hanyalah keyakinan atau perbuatan hati semata, tanpa aktualisasi kongkret.[3] Mereka populer dengan doktrin ”لاتضر مع الإيمان معصية كما لا تنفع مع الكفر طاعة [4](derajat keimanan tidak akan berkurang karena laku maksiat, sebagaimana ketaatan kepada Allah SWT tidak akan mempengaruhi kekufuran). Kaum Murjiah dengan varian yang lain, Al-Karamiyah, menyatakan iman ialah pernyataan lisan semata. Yang lain, versi Murjiah Fuqaha’, menyatakan, iman cukup dengan keyakinan hati dan pernyataan verbal. Ketiga rumusan Murji’ah tersebut bermuara pada satu kesimpulan, mereka tidak memerlukan amal sebagai aktualisasi kongkret keimanan yang bersemayam di hati manusia.

Iman Bertambah dan Berkurang

Seperti terbaca di atas, iman dalam pemahaman generasi salaf menjadikan tiga dimensi iman menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak boleh dipisah-pisahkan. Di sini dapat dipahami bahwa ‘amal (perbuatan hati dan organ tubuh) menjadi bagian tak terpisahkan dari pemaknaan iman itu sendiri. Oleh karena itulah, iman akan bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.

Konsep fluktuasi atau naik-turunnya iman dapat kita cermati pada surat Al-Anfal 2-4 berikut :

{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ}

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal :2-4)

Demikian pula hadis-hadis Nabi SAW di bawah ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :“Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama ialah perkataan ‘tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT’ dan yang terendah ialah menyingkirkan rintangan atau kotoran dari jalan, sedang rasa malu itu juga merupakan salah satu cabang iman.[5]

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Dari sahabat Abu Sa’id al-Khudry RA, Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan yang demikian itu ialah selemah-lemahnya iman.”[6]

Karakteristik Iman dalam Islam

Segala sesuatu memiliki ciri khas sendiri yang membedakannya dengan yang lain, termasuk dalam perkara iman dan keyakinan beragama. Kaum musyrikin mengekspresikan keyakinannya dalam bentuk pemujaan benda-benda alam di atas fungsi yang semestinya. Orang-orang ateis mendewakan paham anti eksistensi Allah SWT. Kaum sekuler mempertuhankan dikotomi dunia-akherat, Tuhan-manusia. Penganut Rasionalisme memuja akalnya. Pengikut Liberalisme menyanjung kebebasan tanpa batas dan anti hukum Allah SWT. Pemeluk Komunisme memegang erat doktrin pertarungan antar kelas yang mutlak sebagaimana penganut Kapitalisme yang memuja keunggulan individu atas segalanya.

Demikian pula kita, umat yang menyatakan “radlitu billahi Rabban, wa bil-Islami dinan, wa bi Muhammadin nabiyya wa rasula”, memegang teguh ajaran tauhid yang kita wujudkan dalam kehidupan nyata dalam rumusan “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil-‘alamin.” Sistem iman dalam Islam mengajarkan kita untuk mempertahankan visi kehidupan, tidak saja di dunia, tapi jauh melintasi alam materi, kehidupan kekal di akherat. Islam menuntun kita untuk mendudukkan manusia pada dua dimensi sekaligus; jasmani dan ruhany, di saat isme-isme yang lain mengabaikannya dan kemudian mengantarkan pemeluk-pemeluknya kepada krisis kehidupan dan bahkan sampai pada kebinasaan.

Perbedaan khas di antara kelompok manusia di atas secara sederhana dapat kita katakan sebagai karakteristik atau keistimewaan. Dalam bahasa Arab hal ini disebut sebagai “khashaish”. Iman dalam ajaran din kita, Islam, mempunyai beberapa kistimewaan atau sifat dasar yang membedakannya dengan berbagai model dan sistem keyakinan dan ideologi lain. Pada risalah kecil ini saya sampaikan tiga karakteristik; “tawqifiyah” (meyakini sebatas yang diterangkan Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW),ghaibiyah” (bersifat ghaib; tidak terindera) dan “syumuliyah” (integralitas/menyatunya dimensi substansi dan aplikasi).

§ Tawqifiyah (تَـوْقِـْيـقِـَّيةٌ)

Tawqifiyah dapat kita maknai sebagai meyakini perkara-perkara iman sebatas yang diterangkan Al-Qur’an dan Rasulullah SAW. Hal sedemikian, meskipun akal berpotensi untuk memahami dan menalar, tapi ia tak dapat berdiri sendiri dalam memahami dan menalar hakekat-hakekat keimanan secara detail dan terperinci. Dalam perkara keimanan seringkali terdapat muatan-muatan yang membingungkan dan akal tidak sanggup menalarnya. Namun di saat yang sama kita juga tidak menemukan alasan untuk menafikannya.

Tentang kehidupan alam kubur misalnya. Seringkali kita tidak mampu menalar dengan baik akan hakekat alam barzakh dan dua Malaikat Allah; Munkar dan Nakir. Keduanya diterangkan oleh Rasulullah sebagai juru tanya di alam kubur. Akal tidak dapat menjelaskan secara kongkret tentang keduanya, termasuk berbagai kenyataan (hakekat) yang akan kita alami di alam barzakh nanti. Kita tidak akan pernah memiliki pengalaman bertemu keduanya di dunia. Pada saat yang sama, kita yang belum mati saat ini, atau siapapun yang tidak meyakininya, tidak punya cukup alasan untuk menafikan keberadaannya karena ketiadaan data atau observasi ilmiah yang membuktikan atau memvisualisasikannya. Kita tidak akan pernah memegang data statistik tentang orang-orang yang telah mengalami kehidupan alam kubur yang kembali ke dunia, lalu mereka disurvei. Itu mustahil!.

Sampai di sini akal tidak dapat menjelaskan secara kongkret. Nah, untuk menjembatani dan mempertemukan kesenjangan antara kelemahan akal kita untuk menafikan dan hakekat alam barzakh, termasuk dua malaikat Munkar dan Nakir, Allah SWT mengajarkan kita tentang satu hal yang sangat penting dalam hidup ini : Al-Iman (keimanan).

Contoh lain. Tentang surga dan neraka, apakah benar adanya atau sekedar metaforis? Seorang pemikir muslim menyatakan, “Konsep surga dan neraka merupakan cara Tuhan untuk ‘memaksa’ hamba-hambaNya agar berbuat baik dan menjauhi kejahatan.” Yang lain berkata,”Kalaulah surga hanya seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an; ada sungai yang mengalir, pohon-pohon yang rindang, buah-buahan dll., maka saya tidak pernah bercita-cita masuk surga. Hal sedemikian karena memang Al-Qur’an diturunkan di gurun pasir yang tandus!.” Subhanallah!

Jika kita ingin menggali lebih jauh tentang pemikiran seperti itu, kita akan bertanya,”Tolong buktikan secara kongkret, dengan data-data ilmiah dan observasi autentik bahwa surga itu tidak ada, dan itu hanya bersifat metaforis?.”Kita yakin pemikir tersebut tidak akan dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. Karena jelas, ia belum mati, sementara surga dan neraka akan kita ketahui di alam akherat nanti. Jadi, sesungguhnya antara orang yang meyakini adanya surga dan neraka, atau sebaliknya, menafikan keberadaannya sama sekali sama saja. Tidak ada bedanya, keduanya berdasarkan pada satu kata : “klaim”. Orang yang meyakini paling jauh dasar klaim mereka adalah “wahyu” dan bagi yang menolak landasan mereka adalah “akal”. Perlu kita tegaskan bahwa perkara keimanan adalah klaim yang hanya berdasarkan “wahyu”.

Mari kita perhatikan petunjuk Allah SWT kepada RasulNya SAW ketika ditanya tentang ruh :

{وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا}

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".[7]

Dalam ayat ini Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjawab “"Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku!”. Penisbatan ruh kepada Allah SWT (أَمْرِ رَبِّي) menunjukkan kekhususanNya; ruh menjadi bagian dari IlmuNya yang dirahasiakan dan tidak kita ketahui. Selain itu, ayat ini mengandung larangan dan himbauan tegas agar kita tidak ngoyo dan membuang energi dalam membahas hakekat ruh yang memang berada di luar jangkauan dan otoritas akal. Bahkan melakukan hal sedemikian menurut para mufassir sebagai pembicaraan sia-sia yang tak mendatangkan manfaat agama ataupun keuntungan dunia. Bagaimana mungkin kita (pengikut para Nabi) dapat melakukan hal ini, sementara Allah SWT tidak pernah membuka tabir tentang ruh kepada Nabi-nabiNya, bahkan mereka tidak diizinkan untuk bertanya, tidak pula membahas tentang hakekat ruh.[8]

Betapa mulianya sikap para sahabat yang dengan penuh ketulusan menerima penjelasan Rasulullah SAW tentang seseorang yang telah dikuburkan. Tak seorangpun yang membantah ataupun meminta data observasi ilmiah sebagai bukti adanya alam kubur. Ada baiknya kita renungkan penjelasan Rasulullah SAW berikut ini :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ قَالَ يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ قَالَ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيُقَالُ لَهُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا".قَالَ قَتَادَةُ وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا وَيُمْلَأُ عَلَيْهِ خَضِرًا إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Sesungguhnya seorang hamba jika telah dibaringkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh para pengantarnya, sungguh dia akan mendengar suara ketukan sandal mereka.” Lanjut beliau, “Datang kepadanya dua malaikat, lalu keduanya mendudukkannya seraya bertanya : ‘Apa yang engkau katakan tentang orang ini?’. Adapun orang mukmin maka dia akan menjawab: ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasulNya’, Lalu dikatakan kepadanya :’lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan tempat duduk bagimu di surga!’ ”. Nabiyyullah bersabda,” Maka ia melihat keduanya.” Sahabat Qatadah (yang meriwayatkan hadis ini) berkata :”Dijelaskan pula kepada kami bahwa orang tersebut dilapangkan baginya di alam kubur seluas 70 hasta dan dipenuhi atasnya keni’matan yang segar hingga hari orang-orang dibangkitkan dari kuburnya.[9]

Saya teringat kisah Bapak Prof. Ahmad Mursyidi, ketua Forum Umat Islam (FUI) Yogyakarta, yang juga mantan rektor UMY. Pada general studium di Lembaga Pendidikan Insani Yogyakarta beliau bercerita begini. Suatu saat beliau berkunjung ke Amerika Serikat untuk mengikuti sebuah seminar. Di sela-sela kegiatan ilmiah tersebut beliau selalu istiqamah untuk menunaikan shalat. Salah seorang kolega beliau mengomentari kurang lebih begini,”Pak Mursyidi, saya lihat Anda sangat konsisten dengan ritual shalat. Saya boleh tau, kenapa ya?.” Prof. Ahmad Mursyidi dengan enteng menjawab, “Bung, saya ini ibarat seorang mahasiswa yang besok pagi masuk ujian. Cukup menjalankan perintah dosen untuk mempelajari materi perkuliahan yang telah diajarkan. Perkara besok, di saat ujian, yang saya pelajari itu keluar atau tidak: nothing to lost!. Lha, akan lebih repot lagi jika sejak awal saya bersikap apriori, tidak mau belajar. Dan ternyata ketika ujian apa yang dipesankan oleh dosen saya benar-benar ditanyakan. Saya tidak mau ambil resiko mas.”

Secara sederhana dapat kita nyatakan bahwa sikap Prof. Mursyidi pada cerita terbaca tadi sebagai sikap “iman” yang tidak perlu dirasionalkan, sebab ini perkara “tawqify”.

Barangkali, masih tersisa pertanyaan di benak kita masing-masing “mengapa harus demikian, bukankah kita diberi akal sebagai instrumen untuk memahami kehendak Tuhan?”. Tentunya percikan pemikiran seperti ini tidaklah salah. Pada batas tertentu barangkali wajar. Allah SWT berkehendak mengingatkan kita bahwa akal bukan segala-galanya. Akal manusia sangatlah terbatas. Oleh karena itu tidak perlu terlampau dipuja-puji, apalagi didewakan atau dipertu-hankan. Perhatikan dua ayat berikut ini :

{وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ}

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).[10]

{قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمْ مَنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ. وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ. وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآَنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

Katakanlah : "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?" Katakanlah "Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran". Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? bagaimanakah kamu mengambil keputusan?. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidaklah mungkin Al Quran Ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang Telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.”[11]

Di samping keterbatasan akal, ada dua hal yang perlu kita ingat :

Pertama : Allah SWT telah menyempurnakan agamaNya. Pun pula Rasulullah SAW telah menunaikan kewajiban beliau menyampaikan risalah Ilahiyah kepada kita, sehingga tidak satu bagian pun lepas dari penjelasan. Apalagi perkara-perkara iman yang menjadi fondasi din. Ini merupakan konsekuensi penyempurnaan Islam yang difirmankan oleh Allah SWT dalam ayat berikut :

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}

“...Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...[12]

{فَلاَ وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”[13]

Demikian pula sabda Rasululllah SAW :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّواْ بَعْدِي أَبَدًا، كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّتيِ

“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya : Kitab Allah dan Sunnahku.[14]

Kedua, sebagai konsekuensi logis dari keterbatasan akal kita serta kesempurnaan din sebagaimana di atas maka, kita wajib konsisten memaknai perkara-perkara keimanan sesuai dengan yang diterangkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian kita tidak diperkenankan secara syar’ie untuk menafsirkan “lafazh-lafazh” tentang keimanan kecuali dengan makna-makna yang diterangkan sendiri oleh Al-Qur’an dan Rasulullah SAW melalui hadisnya. Inilah yang disebut sebagai “tawqify”.

§ Ghaibiyah (غَيْـبِـيَّـةٌ)

Berasal dari kata “ghaib” yang secara harfiyah berarti sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera kita; tidak tercium, teraba, terasa ataupun terdengar. “Ghaibiyah”, dalam gramatika bahasa Arab dinisbatkan ke kata ini, “ghaib”. Dengan demikian ia berarti sesuatu yang dikategorikan “ghaib”, tidak tercium, tidak teraba, tidak terasa ataupun tidak terdengar.

Al-Qur’an menjelaskan, panca indera merupakan jendela akal kita untuk memperoleh pengetahuan.

{وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُـونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ}

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”[15]

Oleh karena itu, sesuatu yang tidak terobservasi oleh indera tentu tidak dapat pula dinalar oleh akal kecuali secara parsial dan tidak utuh, dengan cara menganalogikan yang “ghaib” dengan yang terindera. Namun demikian, tidak berarti semua muatan keimanan selalu tidak dapat ditangkap oleh akal ataupun indera kita. Allah SWT menegaskan bahwa salahsatu sifat yang paling menonjol pada diri orang yang bertaqwa ialah keimanannya yang teguh terhadap yang ghaib, seperti keterangan ayat ini :

{الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}

Alif lâm mîm. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.[16]

Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, seorang pakar akidah di Kulliyat Al-Mu’allimin di Dammam, Kerajaan Arab Saudi menjelaskan hal ini. Menurut beliau, iman kepada yang ghaib merupakan spesifikasi fitrah manusia. Penalaran terhadap realitas fisik merupakan potensi yang sama-sama kita miliki, juga binatang. Bahkan penalaran metafisik merupakan instink yang melekat pada diri kita. Kini, hal ini disebut sebagai kuriositas, dorongan dan potensi keingin-tahuan. Potensi inilah yang menjadi factor pemicu penemuan-penemuan ilmiah, yang dengannya kita, manusia zaman modern, dapat menikmati berbagai kekeyaan alam.[17]

Mudahnya begini. Saat ini kita hidup di tengah realitas kehidupan yang sangat menakjubkan. Kita menikmati berbagai sarana kehidupan untuk menjadi hamba Allah yang baik sebagai hasil rekayasa canggih ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika realitas ini kita andaikan lima puluh tahun yang lalu, mungkin kita bergumam, “apa ya?”. Tentunya realitas saat ini menjadi sesuatu yang tak terbayangkan di masa itu. Artinya ia sesuatu yang “ghaib”.

Ilustrasi terbaca di atas menjelaskan tentang adanya konsep ghaib yang terikat, relative. Artinya, kegaiban yang belum kita temukan ataupun kita rasakan kecuali setelah Allah SWT mengizinkan kita menemukan dan merasakannya, sesuai dengan qadarNya. Coba kita renungkan lantunan munajat Nabi SAW dalam hadis di bawah ini :

ماَ أَصَابَ أَحَدًا قَطُّ هَمٌّ وَلاَحُـزْنٌ ، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنيِّ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتيِ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَلَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ اْلغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ اْلقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبيِ وَ نُوْرَ صَدْرِي وَ جَلاَءَ حَـزَنيِ وَذَهَابَ هَمِّي إِلاَّ أَذْهَبَ اللهُ هَمَّهُ وَحُـزْنَـهُ وَ أَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَجًا. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلاَ نَتَعَلَّمُهَا ؟ فَقَالَ: بَلىَ يَنْبَغيِ لِمَنْ سَمِعَهَا أَنْ يَتَعَلَّمَهَا

Tidaklah samasekali seseoran dirundung kesedihan lalu ia berdo’a :”Ya Allah sungguh aku adalah hambamu, anak dari seorang hambaMu yang laki dan perempuan, diriku di genggamanMu, keputusanMu pasti berlaku atas diriku, taqdirMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama agung yang Engkau miliki, yang Engkau sebut diriMu dengannya, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhlukMu, atau Engkau sebutkan dalam KitabMu, atau tetap Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib di sisiMu, jadikanlah ya Allah Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, jadikan ia cahaya dalam hatiku, yang melenyapkan rasa sedihku dan menghapus kegundahanku”, kecuali Allah SWT lenyapkan kegundahan dan kesedihan hatinya dan digantikan dengan kegembiraan. Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, ‘apakah tidak sebaiknya kami mempelajarinya?’. Lalu beliau menjawab :”tentu saja, barang siapa mendengarnya hendaklah ia mempelajarinya!.”[18]

Tentang hadis ini, Dr. Al-Buraykan menjelaskannya sebagai berikut. Bahwa ada sesuatu yang sebelumnya masuk dalam wilayah ghaib kemudian diajarkan kepada kita. Ghaib semacam ini dapat disebut sebagai ‘ghaib nisbiy’ (kegaiban yang relatif). Maksudnya, bisa saja sesuatu tidak terindera (ghaib) bagi seseorang, namun tidak bagi yang lain.

Selain yang bersifat relatif, ada pula ghaib muthlaq (kegaiban yang absolut), yang mustahil kita indera karena ketiadaan sarana penalaran yang memadai. Ada tiga sarana untuk sampai kepada sebuah pengetahuan; panca indera dan berita (dari Allah dan RasulNya), kedua hal ini menjadi sumber pengetahuan rasional; analogi yang ghaib dengan yang nyata (syahadah). Inipun bertumpu pula pada panca indera, karena jelas tidak mungkin membandingkan sesuatu yang kedua-duanya, atau salah satunya tidak pernah terindera. Jika ketiga sarana pengetahuan tersebut terputus secara otomatis pengetahuan kitapun terputus. Itulah makna munajat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW “tetap Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib di sisiMu”. Inilah ghaib yang absolut, mutlak. Dalam artian, kegaiban yang tak mungkin dapat di nalar atau tidak mempunyai bentuk dalam nalar kita. Meskipun ketiadaan bentuk kongkritnya dalam nalar, tidak berarti ‘wujud’, keberadaannya dapat dinafikan.[19]

Contoh ghaib mutlaq (kegaiban yang absolut) dapat kita pahami pada ayat berikut ini :

{إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ}

Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”[20]

Adapun ghaib nisbiy, kegaiban yang relatif dijelaskan oleh Allah SWT dalam ayat :

{الم. غُلِبَتِ الرُّومُ. فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ. فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ. بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ}

Alif lâm mîm. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi.Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.[21]

Bangsa Romawi adalah satu bangsa yang beragama Nasrani yang mempunyai Kitab Suci sedang bangsa Persia adalah beragama Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). kedua bangsa itu terlibat peperangan. Ketika tersiar berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia, Maka kaum musyrik Mekah menyambutnya dengan gembira Karena berpihak kepada orang musyrikin Persia, sedang kaum muslimin berduka cita karenanya. Kemudian turunlah ayat ini dan ayat yang berikutnya menerangkan bahwa bangsa Romawi sesudah kalah itu akan mendapat kemenangan dalam masa beberapa tahun saja. hal itu benar-benar terjadi. Beberapa tahun sesudah itu menanglah bangsa Romawi dan kalahlah bangsa Persia.[22]

Ketika ayat ini diturunkan, tak seorangpun sahabat Rasulullah SAW yang mengetahui tentang kemenangan orang-orang Romawi (beragama Nasrani). Barangkali berfikirpun tidak. Akan tetapi, ketika sejarah membuktikan berita Al-Qur’an tersebut, mereka sadar akan kebenaran wahyu.

Berikut beberapa kaidah dalam memahami perkara-perkara keimanan[23] :

· Apa yang kita dapat dengan indera, kita yakini adanya, kecuali bila akal kita mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman.

· Keyakinan, disamping diperoleh dengan menyaksikan langsung, bisa juga melalui berita yang bersumber pada seseorang yang diyakini kejujurannya/integritas moral.

· Kita tidak berhak memungkiri wujud sesuatu, hanya karena tidak dapat terjangkau dengan indera kita sendiri.

· Seseorang hanya bia mengkhayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya.

· Akal hanya dapat menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu. (kita tidak dapat menunjukkan suatu negeri, dimana negeri tersebut tidak di darat, laut, udara dan tidak ada dimana-mana).

· Iman adalah fitrah dasar manusia, apapun agama, ideology dan mazhab yang kemudian diikutinya.

· Kepuasan material di dunia sangat terbatas

· Keyakinan akan hari kiamat adalah konsekwensi logis dari keyakinan tentang adanya Allah SWT.

Dengan model atau kerangka penjelasan naqliyah (Al-Qur’an dan Sunnah) serta penalaran aqliyah (logika) tersebut, kita meyakini bahwa pengetahuan mutlak tentang perkara-perkara ghaib merupakan hak proregatif dan kekhususan bagi Allah SWT. Akal tidak memiliki otoritas untuk menjabarkannya secara gamblang dalam realitas kehidupan manusia. Dengan demikian, mencari-cari pengetahuan tentang yang ghaib merupakan kesia-siaan belaka, dan orang yang mengklaim memiliki pengetahuan tentang hal ini, tanpa merujuk kepada petunjuk Allah SWT dan rasulNya, dapat dinyatakan sebagai kedustaan belaka.

{وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ }

“...dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar.”[24]

{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ}

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"[25]

Peringatan tegas Rasulullah SAW terhadap pelaku klenik, perdukunan dan sejenisnya dari klaim-klaim pengetahuan tentang yang ghaib terbaca pada hadis berikut ini :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ

“Barang siapa mendatangi seorang dukun atau peramal lalu ia percaya terhadap apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”[26]

§ Syumûliyah (شُّمُوْلِيَّـةٌُ)

Kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk meyakini dan mengamalkan Islam secara total, tidak boleh parsial. Totalitas keyakinan inilah yang menjadi pendorong utama kita dalam menunaikan segala amanah khilafah, pemakmuran bumi dalam bingkai ajaran Ilahiyah.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ}

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”[27]

Agar kita dapat menjalankan amanah ini dengan baik, Allah SWT menyediakan berbagai fasilitas dan instrumen berupa alam yang terhampar. Kita dianugerahkan potensi untuk mengelola alam ini sesuai dengan risalahNya, bukan untuk dieksploitasi. Tapi juga tidak untuk dipertuhankan. Relasi kita dengan seluruh alam dan potensi yang terpendam di dalamnya ialah hubungan pemanfaatan dan pendayagunaan agar kita hidup dengan baik, menunaikan amanah khilafah dengan paripurna.

{أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ}

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”[28]

Mari kita bandingkan, sekaligus kita renungkan ayat ini :

{تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ. الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ. ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ. وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ}

Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Sesungguhnya kami Telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”[29]

Lima ayat terbaca, mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang kurang dari penciptaan alam semesta. Bahkan, di sini Allah SWT menantang kita untuk terus menatap dan mencermati akankah ada sesuatu yang tidak beraturan. Bila kita mencoba mencari-cari celah kelemahan dalam struktur penciptaannya, kita hanya memperoleh keletihan di mata!

Barangkali, klimaks dari itu semua hati kita tertegun dan dengan nada bergetar penuh ketakutan terhadap keagungan Allah, kita berkata sebagaimana yang diajarkanNya:

{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ. رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ. رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ}

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh Telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."[30]

Meskipun alam demikian tertata dan mengagumkan. Meskipun alam takkan dapat kita kalahkan di kala ia menunjukkan fenomena keagunganNya, kita, manusia ini, lebih mulia dan lebih terhormat dari alam itu sendiri. Karena ini adalah konsekuensi logis dari amanah khilafah yang telah kita emban. Bukankah amanah ini tak mampu diemban oleh ciptaan-ciptaan Allah selain kita?

{إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا}

“Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”[31]

Oleh karena itulah, kelemahan fisik ketika berinteraksi dengan alam, tidak boleh menjadikan kita menghambakan diri kepada alam dan mempertuhankannya! Alam, tetaplah alam yang tercipta. Dia makhluq dan bukan Khaliq! Segenap hidup, mati, dan apa saja yang ada pada diri kita hanyalah diorientasikan kepadaNya :

{قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”[32]

Apa makna “syumuliyah” pada narasi terbaca di atas?

Syumuliyah”, dapat diartikan sebagai ‘integralitas’ atau ‘komprehensif’. Maksud integralitas di sini ialah menyatunya aspek substansi (maknawi, keyakinan) dan praktek nyata kehidupan kita (aplikasi). Atau, lebih populer di kalangan kita dengan sebutan menyatunya dua aspek sekaligus; aspek substantif dan aspek formalistik. Kedua aspek ini tidak boleh didikotomi.

Contohnya begini. Pada surat Al-Mulk, ayat 1-5 terbaca di atas, Allah SWT mengajarkan kita tentang ciptaanNya yang paripurna dan maha dahsyat. Persis seperti yang tertera pada surat Alu ‘Imran, ayat 190-194, tentang “ulul albab” yang merenung tentang keagungan Allah SWT dalam ciptaanNya. Semua fenomena keagungan Allah SWT, yang terbentang luas dalam cakrawala ayat-ayat kauniyahNya harus dikembalikan kepadaNya. Oleh karena semua itu kembalinya kepada Allah SWT (Al-Khaliq), maka segala pujian keagunganpun hanya ditujukan kepada Allah, bukan kepada ciptaanNya (makhluq). Pujian keagungan dalam bentuk tahmid, tasbih,dzikir sampai pada tingkat penyembahan (ibadah) “haram” ditujukan kepada alam.

Kesadaran dan keyakinan kita akan keagungan Allah SWT dalam ciptaanNya, itulah yang dimaksud dengan “substansi” keimanan (domain keyakinan). Sementara lantunan pujian syukur, tahmid, dzikiri sampai pada peribadatan sebagai ekspresi penyerahan diri kepadaNya kita sebut sebagai “formalitas” keimanan (domain praksis). Keduanya tidak boleh dipisah-pisahkan (dikotomi) apalagi dikontradiksikan. Inilah sesungguhnya makna “syumuliyah”.

Inilah permasalahan terbesar umat manusia sejak generasi Nabiyiyullah Adam ‘alaihissalam. Yaitu permasalahan yang menyangkut persepsi tentang “Tuhan”, “alam”, “manusia” dan “kehidupan”. Atau para pemikir muslim menyebutnya sebagai “worldview” (al-Tashawwur al-Islamy; Ru’yatul Islam lil wujûd). Dengan paradigma semacam ini pula tidaklah mungkin seorang muslim akan mengatakan “Ndak apa-apa tidak shalat, yang penting saya berbuat baik.” Atau ungkapan yang tidak jarang saya simak dari seorang profesor ketika masih kuliah di pascsarjana dulu, “Saya yakin Islam yang benar, tapi saya tidak tau kalau Kristen itu salah!.” Atau barangkali ada yang berkata,”yang penting saya sholeh secara pribadi, perkara ada orang kelaparan itu bukan urusan saya.” Atau “Gak apa-apa to saya jadi pelacur, yang penting ikhlas kok, gak pakai korupsi”. Na’udzubillah min dzalik.

Di antara konsekuensi dimensi syumuliyah keimanan kita ialah menerima seluruh isi dan kandungan Al-Qur’an termasuk penjelasan-penjelasan Rasulullah SAW dalam hadis shahihnya sekaligus. Kita tidak diperkenankan untuk memilah-milah mana ayat-ayat atau hadis-hadis yang sesuai dengan kepentingan kita, lalu meninggalkan sebagian yang lain. Atau dalam sikap hanya menerima Al-Qur’an saja, ataupun hadis saja. Sikap keimanan yang ambivalen dan dikotomis dikecam oleh Allah SWT dalam ayat di berikut ini :

{إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا. أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا. وَالَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[33]

Agar kita tidak menjadi manusia yang terbelah kepribadiannya (split personality), hidup dikotomis dan parsial, hendaklah kita selalu ingat bahwa iman dalam Islam mengajarkan kita tiga dimensi sekaligus : keyakinan yang kokoh dalam hati, pernyataan verbal pada lisan yang jujur dan pembuktian dengan amal kebaikan organ tubuh kita. Wallahu A’alam bi al-shawab.

Agar tidak menjadi manusia yang terbelah kepribadiannya (split personality), hidup dikotomis dan parsial, hendaklah selalu ingat bahwa iman dalam Islam mengajarkan kita tiga dimensi sekaligus : keyakinan yang kokoh dalam hati, pernyataan verbal pada lisan yang jujur dan pembuktian dengan amal kebaikan organ tubuh kita. Wallahu A’lam bi al-shawab.


1 Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyah, Kitab al-Iman (Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1414 H), Cet. IV, hal. 151-152

[2] Lihat kitab Tauhid Syaikh Sholih Al-Fauzan.

[3] Ibnu Taymiyah, Majmu’ Fatawa, VII/195. Lihat juga, Muhammad Ba Karim Muhammad Ba Abdullah, Wasathiyatu Ahlis Sunnah Baya Al-Firaq, hal. 335-336

[4] Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, I/139

[5] HR Muslim

[6] HR Muslim

[7] Al-Isra’ :85

[8] Al-Imam Al-Syaukani, Fath al-Qadir, jilid IV, hal. 347. Lihat al-Maktabah al-Syamilah.

[9] HR Muslim. Lihat Al-Maktabah al-Syamilah : Shahih Muslim, hadis nomor 5115, Bab : ‘Ardl Maq’ad al-Mayyit min al-Jannati aw al-Nar ‘alaih, Juz : 14, Hal. 31.

[10] Al-An’am : 116

[11] Yunus : 35-37

[12] Al-Maidah : 3

[13] Al-Nisa : 65

[14] HR Tirmidzi, dari sahabat Jabir Ibn Abdillah radliyallahu ‘anh

[15] Al-Nahl : 78

[16] Al-Baqarah :1-3

[17] Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, al-Madkhal li Dirasat al-Aqidah al-Islamiyah ‘ala Madzhab ahl al-sunnah wa al-Jama’ah, (Riyadl: tp., tt. ), Cet. hal. 55.

[18] Lihat : Al-Maktabah Al-Syamilah,Syaikh Albany, Silsilah al-Ahadit al-Shahihah, I/337

[19] Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, al-Madkhal…Hal. 57.

[20] Luqman : 34

[21] Al-Rum : 1-5

[22] Ibnu Jarir al-Thabary, Tasir al-Qur’an al-Karim, Jilid 20, hal. 60

[23] Drs. Yunahar Ilyas, Lc., Kuliah Akidah Islam,(Yogyakarta: LPPI UMY, September 2002), Cet. 7, Hal. 7-8

[24] Alu ‘Imran : 179

[25] Al-‘An’am : 59

[26] HR Abu Dawud dari Abu Hurairah). Lihat, Sunan Abu Dawud, Kitab al-Thibb,(Beirut: Dar El-Fikr) Vol. III, Hal. 229, tanpa lafazh “عَرَّافًا”. Redaksi hadis tertera di atas diriwatkan oleh Imam Ahmad, Musnad Imam Ahmad, (Beirut: Dar El-Fikr) Vol. II, Hal. 429.

[27] Al-Baqarah : 208

[28] Luqman : 20

[29] Al-Mulk : 1-5

[30] Alu ‘Imran : 190-194

[31] Al-Ahzab :72

[32] Al-An’am : 162

[33] Al-Nisa’: 150-152

Sunday, 18 May 2008

Meraih Husnul Khatimah

Meraih Husnul Khatimah[1]


Oleh : Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.[2]

Tadabbur Daur Kehidupan

“Waktu adalah kehidupan itu sendiri”, ungkap sebagian hukama’, orang-orang bijak. Ungkapan ini tidaklah berlebihan jika direnungkan dengan baik. Bahkan surat ke-103 dalam Al-Qur’an disebut “al-‘Ashr”. “والعصر”, demikian Allah mengawali TitahNya. Bersumpah (al-qasam) dengan makhluq apapun, termasuk dengan waktu adalah haram bagi kita. Namun hukum ini tidaklah berlaku di sisi Allah SWT. Allah SWT berhak untuk bersumpah dengan ciptaanNya. Sumpah Allah SWT dengan waktu menunjukkan urgensi dan kemuliaan waktu itu sendiri. Subhanallah!

Dalam surat yang sangat pendek itu, kata Sayyid Qutub, tergambar manhaj (sistem) yang komprehensif tentang kehidupan umat manusia yang diidealkan oleh Islam. Didalamnya juga tampak jelas rambu-rambu persepsi keimanan dengan hakikatnya yang besar dan menyeluruh, dalam suatu gambaran yang sangat jelas dan detail. Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kerugian dan kehancuran menjadi resiko semua manusia, kecuali mereka yang memegang teguh prinsip keimanan dalam hatinya serta melakukan amal kebajikan dengan organ fisiknya. Dengan kata lain, aktualisasi yang selaras antara kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Kita meyakini dengan baik bahwa umur kita terbatas dan telah ditentukan oleh Allah SWT. Sesungguhnya seiring dengan bergulir dan berjalannya waktu, jatah hidup kita semakin berkurang. Jelas, karena semakin mendekati ke garis final kehidupan kita (ajal). Jika diilustrasikan dengan sebuah perniagaan, umur adalah aset dan modal usaha kita. Tentang keterkaitan antara waktu dan kerugian, ahli tafsir terkenal Fakhruddin Al-Razy menjelaskan demikian; ketika rugi dipahami sebagai hilangnya modal, sementara modal kita adalah umur kita sendiri, tentunya setiap detik kita mengalami kerugian. Ini logis, karena umur yang menjadi modal terus berkurang. Tidak diragukan lagi jika umur digunakan oleh manusia untuk bermaksiat kepada Allah, ia benar-benar mengalami kerugian, bukan saja karena ia tidak mendapatkan kompensasi dari modalnya yang hilang, bahkan lebih dari itu ia telah mencelakakan dirinya sendiri. Demikian halnya, jika ia menghabiskan umurnya untuk mengerjakan perkara-perkara yang mubah sekalipun, ia tetap dinyatakan merugi. Sebab, ia menghabiskan modalnya untuk hal-hal yang tidak berimplikasi apa-apa kepada dirinya sendiri. Dengan penjelasan ini, kita dapat memahami dengan baik mengapa iman dan amal shalih manjadi pengecuali bagi pelakunya.

Dengan paradigma dan cara pandang ini, setidaknya, kita dapat membangkitkan energi dan kesadaran spiritual untuk menata kehidupan yang ber-ittijah Rabbany, Allah oriented (berorientasi kepada Allah SWT semata). Manusia itu Ada dari tiada menjadi ada dan akan tiada untuk ada kembali. Manusia lahir dalam keadaan lemah kemudian tumbuh besar, menjadi kuat lalu lemah kembali dan mati. إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ Sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya (Al-Baqarah :156).

Kematian : Misteri Dua Akhir Kehidupan

Inilah daur kahidupan yang wajib kita renungkan. Tidak satupun diantara kita yang mengatahui kapan ia sampai pada garis final kehidupan di dunia ini. Yang pasti, batasannya tak akan bergeser walau setitik. Waktunya tak kan meleset walau sedetik. Demikian Allah menjelaskan dalam KalamNya :

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-Araf :34)

Ketidaktahuan kita tentang waktu kematian adalah sesuatu yang absolut. Kitapun tidak pernah mengetahui bagaimana epilog daur kehidupan ini; husnul khatimah (pengakhiran yang baik) ataukah Suul khatimah (pengakhiran yang buruk). Kita diwajibkan berharap dan berdoa yang terbaik sebagaimana kita mohon perlindungan kepada Allah SWT dari akhir kehidupan yang buruk.

Dalam suatu peperangan bersama Rasulullah SAW, kata Sahl ibn Sad al-Saidy, seseorang dari kaum muslimin membunuh banyak tentara musuh, orang-orang musyrik. Para sahabatpun terkagum-kagum dengan prestasi itu. Uniknya, Nabi SAW mengabaikan kekaguman para sahabat tersebut dan berkata,”Adapun orang itu, maka ia termasuk penghuni neraka !”. Mereka semua tersentak. Sebagian berkomentar,”Lalu siapa diantara kita yang pantas manjadi ahli surga, jika orang tadi masuk neraka?!. Tidak lama kemudian seorang di antara para sahabat memberi kesaksian bahwa sosok yang dikagumi mereka ternyata bunuh diri. Sejatinya ia belum mati, ia hanya terluka. Namun karena ia hendak segera mati (sebagai syahid) lalu ia tancapkan pedangnya ke tanah dan ujungnya yang tajam di dadanya. “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah”, sumpahnya di hadapan Nabi SAW. “Ada apa?” tanya Nabi SAW. “Tentang orang yang baru saja engkau tegaskan sebagai penghuni neraka waha Rasulullah”, jawabnya. Semua sahabatpun melotot, terheran. Lalu Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ .وَفى بعضِ الرواياتِ زِياَدة "وَإِنَّماَ الأَعْماَلُ باِلخَوَاتِيْمِ (رواه البخارى ومسلم) [3]

Kisah tersebut menegaskan satu aksioma : kematian adalah misteri. Kematian merupakan rahasia Allah SWT. Sekaligus menjadi hak prerogatifNya yang takkan pernah dapat diintervensi oleh siapapun. Apalagi makhluk lemah bernama manusia. Artinya, kita hanya dapat berdoa agar diberi akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).

Ikhtiar Meraih “Husnul Khatimah”

Husnul khatimah” ialah mati dalam keadaan yang baik; di mana Allah SAW menganugerahkan kita taufiq-Nya untuk menjauhi segala apa yang membuatNya murka, bertaubat dari segala dosa dan maksiat, segera melakukan ketaatan dan amal kebajikan.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[4]

Anas ibn Malik RA meriwayatkan dari Rasulullah SAW :

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ [5]

Berikut ini beberapa ikhtiar dan amal yang insya Allah semakin mendekatkan kita kepada akhir kehidupan yang baik/husnul khatimah :

1) Memperbanyak doa

Untuk mendapatkan akhir kehidupan yang baik, diperlukan sikap hidup dan menjalani kehidupan dengan baik sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Untuk dapat menjalani kehidupan yang penuh liku-liku dengan baik diperlukan keteguhan qalbu untuk istiqamah pada agama Allah SWT. Sementara qalbu itu diilustrasikan sebagai sesuatu yang berada diantara dua jari yang dapat digerakkan sekehendakNya. Inilah doa yang selalu dilantunkan oleh Rasulullah SAW. Perhatikan riwayat berikut ini :

عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ : قُلْتُ لأُمِّ سَلَمَةَ، يَاأُمَّ الْمُؤْمِنيْنَ مَاكَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ، مَاأَكْثَرُ دُعَائِكَ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ؟ قَالَ: يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ. فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ [6]

Setelah sababat Muadz ibn Jabal RA mendengarkan hadis tersebut, beliau membaca ayat :

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia." (Alu-‘Imran : 8)

2) Al-Khauf (rasa takut) kepada Allah SWT dan akhir kehidupan yang buruk (suul khatimah)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ خَافَ أَدْلجَ َوَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ اْلمَنْـزِلَ أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ [7]

Demikianlah, mengapa para sahabat dan umat terdahulu (salaf) sangat khawatir atas kemunafikan yang menjangkiti diri mereka meskipun dalam kadar yang sangat minim (nifaq ashghar), yang pada akhirnya membawa mereka kepada nifaq akbar pada saat menghadapi maut. Bahkan sahabat sekaliber Umar ibn Khaththab RA pernah bertanya kepada Hudzaifah, salah seorang sekretaris Rasulullah, apakah beliau masuk dalam daftar nama orang-orang munafik, dan dijawab “tidak”.

tbqç7|¡øtsr& $yJ¯Rr& /èfÏJçR ¾ÏmÎ/ `ÏB 5A$¨B tûüÏZt/ur ÇÎÎÈ äíÍ$|¡èS öNçlm; Îû ÏNºuŽösƒø:$# 4 @t/ žw tbrããèô±o ÇÎÏÈ ¨bÎ) tûïÏ%©!$# Nèd ô`ÏiB ÏpuŠô±yz NÍkÍh5u tbqà)Ïÿô±B ÇÎÐÈ tûïÏ%©!$#ur Oèd ÏM»tƒ$t«Î/ öNÍkÍh5u tbqãZÏB÷sムÇÎÑÈ tûïÏ%©!$#ur Oèd öNÍkÍh5tÎ/ Ÿw šcqä.ÎŽô³ç ÇÎÒÈ tûïÏ%©!$#ur tbqè?÷sム!$tB (#qs?#uä öNåkæ5qè=è%¨r î's#Å_ur öNåk¨Xr& 4n<Î) öNÍkÍh5u tbqãèÅ_ºu ÇÏÉÈ y7Í´¯»s9'ré& tbqãã̍»|¡ç Îû ÏNºuŽösƒø:$# öNèdur $olm; tbqà)Î7»y ÇÏÊÈ [8]

3) Taubat & mengiringinya dengan amal shalih, karena menunda-nunda taubat merupakan salahsatu sebab orang mengalami akhir kehidupan yang buruk, suul khatimah.

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (Al-Furqan : 70-71)

Rasulullah SAW bersabda :

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِِ كَمَنْ لاَ ذََنْبَ لَهُ [9]

Bertaubat, tentunya dengan syarat-syarat yang telah digariskan oleh Syara; meninggalkan maksiat tersebut secara total (al-iqla), menyesalinya (al-nadam), bertekad untuk tidak mengulanginya (‘azam) dan jika berkaitan dengan hak adam, maka ia wajib untuk menyelesaikannya terlebih dahulu (radd al-madzalim).

4) Tidak panjang angan-angan

Panjang angan-angan seringkali mengantarkan seseorang kepada kebinasaan dan kesengsaraan. Dengan tipu daya syetan ia tenggelam dalam khayalan dan angan-angan kosong untuk menggapai segala kemewahan dunia. Seseorang yang berorientasi dunia semata pada akhirnya melalaikan akherat dan melupakan kematian.

Sebaliknya, pendeknya angan-angan seseorang menjadikannya bersegera menunaikan amal shalih dan ketaatan kepada Allah; memanfaatkan waktu hidupnya untuk menggapai kebaikan dunia dan keselamatan akherat. Rasulullah SAW bersabda :

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا أَوْ غِنًى مُطْغِيًا أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا أَوِ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ أَوِ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ (رواه الترمذي)[10]

Rasulullah SAW mengajarkan kita agar menjalani kehidupan dunia ibarat orang asing atau seorang yang sedang menyeberang jalan; penuh sikap perhitungan dan hati-hati. Suatu ketika beliau memegang pundak Abdullah ibn Umar sambil berpesan :

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيل ٍ(البخاري)

Ibnu Umar RA pernah berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ ٍ(البخاري)[11]

5) Benci terhadap Maksiat serta menjauhinya.

Perbuatan maksiat menjadikan hati semakin berkarat dan kotor. Hati semcam ini takkan pernah memancarkan hidayah Allah SWT sebagaimana diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi berikut ini :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ :

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.(Al-Muthaffifin : 14)

Melakukan maksiat secara terus menerus mengantarkan pelakunya kepada suul khatimah. Sabda Nabi SAW :

مَنْ مَاتَ عَلىَ شَيْئٍ بَعَثَـــه اللهُ عَلَيْهِ (أحمد)

“Barang siapa meninggal dalam suatu keadaan (tertentu) niscaya Allah SWT akan membangkitkannya (di hari kiamat) dalam keadaan seperti itu.”

Seseorang yang ketika badannya sehat, akalnya berfungsi baik, tidak dapat melawan tipu daya syetan, apalagi di saat ruh akan meninggalkan jasadnya, di mana badan dalam keadaan lemah, akalpun tidak berfungsi dengan baik, tentu ia tak berdaya melawan tipu daya syetan tersebut.

6) Sabar menghadapi cobaan dan musibah.

Rasulullah SAW bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ (رواه مسلم)

“Betapa mengagumkannya urusan seorang mukmin. sungguh semua urusannya baik. Tak seorangpun memilikinya kecuali seorang mukmin; jika ia mendapat kebaikan, iapun bersyukur maka yang demikian baik baginya; jika ia tertimpa malapetaka, iapun bersabar maka yang demikian baik baginya.”

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا(متفق عليه)

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu penyakit dan apa saja selainnya, kecuali Allah menghapus keburukannya seperti sebatang pohon yang menggugurkan daun-daunnya.”

7) Berbaik sangka (husnus Dzann) kepada Allah.

Hal ini melahirkan sikap optimis dan berpikiran positif atas segala hal. Firman Allah SWT dalam hadis qudsi :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (متفق عليه)

Tiga hari menjelang wafatnya, Rasulullah berwasiat kepada kita :

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah seseorang diantara kalian mati, kecuali ia dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah”

8) Menyadari bahwa kehidupan dunia amatlah pendek sementara akherat dengan segala kenikmatannya kekal.

Perhatikan Kalam Allah SWT berikut ini :

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (Yunus:45)

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al-Ala : 16-17)

Rasulullah SAW bersabda :

مَا مَثَلُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَثَلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ (رواه ابن ماجه)

“Sungguh perumpamaan dunia di akherat ibarat seseorang di antara kamu mencelupkan tangannya ke laut lalu diangkat, maka hendaklah ia perhatikan dengan apa tangannya itu kembali (?).”

Demikianlah beberapa ikhtiar untuk meraih akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah). Semoga Allah SWT selalu menganugerahkan hidayah dan taufiqNya kepada kita agar selalu istiqamah di atas jalanNya yang lurus. Mampu menjaga kesucian hati. Amin ya Mujibassailin.



[1] Disampaikan pada pengajian Ahad pagi di Masjid Agung Kota Sragen, 14 Januari 2007, Pengajian Tafsir Ibu-ibu Yasmin di Hotel Persada pada Rabu, 24 Januari 2007, Pengajian Albha 06 di Wonosari, 28 Januari 2007, Kajian Tafsir untuk Mahasiswa di PP Muhammadiyah Cik Ditiro, 1 Pebruari 2007 & Pengajian Bulanan di Masjid Al-Hidayah Purwosari Kentungan, Ahad 11 Pebruari 2007, Pengajian PDM Surakarta, 23 Pebruari 2007.

[2] Anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Periode : 2005-2010 / Mudir Lembaga Bahasa Arab “Mahad Ali Bin Abi Thalib” Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[3] “Sesungguhnya seseorang itu dalam pandangan manusia melakukan perbuatan ahli surga, sedangkan ia sejatinya ia adalah penghuni neraka. Dan ada pula orang yang dalam pandangan manusia melakukan perbuatan ahli neraka, padahal ia adalah penghuni surga.” Dalam sebagian riwayat ada tambahan “sesungguhnya (ukuran) semua amal perbuatan itu ialah penutupannya.” (HR Bukhari & Muslim)

[4] QS AlBaqarah : 132

[5] “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, ia diminta untuk melakukan suatu perbuatan.” Beliau ditanya, “Bagaimana ia diminta melakukannya wahai rasulullah?. “Allah menganugerahkan taufiqNya kepadanya untuk melakukan amal shalih sebelum ia meninggal dunia.”(HR Ahmad & Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

[6] “Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, doa apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Doa yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” ” Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca doa: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” [Wahai yang Maha membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu]. Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadits ini hasan)

[7] Barang siapa yang takut akan serangan musuh di akhir malam maka ia segera melakukan perjalanan di awalnya, barang siapa yang melakukan perjalanan di awal malam maka ia akan sampai ke tempat tujuannya. Ketahuilah sesungguhnya dagangan Allah itu teramat mahal. Ketahuilah dagangan Allah ialah surga (Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Bani)

[8] Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.(AlMuminun : 55-61)

[9] “Orang yang bertaubat dari dosanya bagaikan orang yang tak berdosa” (HR Ibnu Majah, menurut Albani hasan)

[10] “Bersegeralah beramal menghadapi tujuh perkara; tiadalah yang kalian tunggu melainkan kefakiran yang membuat lupa; kekayaan yang menjadikan sewenang-wenang; sakit yang yang merusak; ketuaan yang membinasakan; kematian yang menyedihkan; Dajjal, maka ia adalah seburuk-buruk perkara ghaib yang ditunggu; atau hari kiamat, maka itulah yang paling dahsyat dan paling getir.”

[11] Jika engkau berada di waktu pagi, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada di pagi hari, jangan menanti sore. Gunakan masa sehatmu untuk menghapi sakitmu. Gunakan masa hidupmu untuk menghadapi kematianmu.



Tuesday, 18 March 2008

PROPOSAL PEMBANGUNAN MASJID AL-JANNAH

MUKADIMAH

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji hanyalah milik Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam. Semoga kita selalu mendapatkan pertolongan , ampunan, serta perlindungann Nya dari segala keburukan, dan kelemahan.

Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaha illallah wallahu akbar .

Sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang sholih hingga akhir zaman. Amin.

Bersama ini kami sampaikan proposal singkat rencana pembangunan masjid Al-Jannah di dusun Ngemplak, Karang jati, kelurahan Sinduadi, Mlati, Sleman, DIY. Semoga amal kebaikan Bapak/Ibu yang berupa waqaf, infaq, dan sodaqoh jariyah dalam rangka pembangunan Masjid Al-Jannah menjadi jalan menuju ketaqwaan. Amiin Yaa Rabbal a’lamin.

A. Latar Belakang

Arus globalisasi yang merambah berbagai penjuru dunia, telah menciptakan kemudahan-kemudahan hidup bagi manusia, sekaligus membawa dampak buruk berupa penetrasi budaya tertentu yang dominan terhadap budaya lain. Kemudahan hidup yang dirasakan masyarakat diantaranya kemudahan akses informasi yang didukung oleh teknologi informasi yang memungkinkan akses informasi dari berbagai pelosok dunia dalam waktu yang sangat cepat, sehingga sekat-sekat jarak dan batas teritorial dirasakan semakin berkurang.

Di sisi lain, derasnya arus informasi ini telah menciptakan sebuah kondisi sosial anomali yang ditandai oleh pergeseran nilai-nilai budaya setempat yang semakin termarginalisasi, akibat hegemoni budaya asing. Eksesnya di antaranya berupa perkembangan sifat permisif terhadap perilaku menyimpang, hedonisme, pragmatisme, dan sikap cinta dunia yang berlebihan di kalangan masyarakat, yang pada gilirannya mempengaruhi nilai keyakinan religius masyarakat setempat.

Masyarakat yang tinggal di bantaran kali Code adalah tipikal masyarakat urban yang potensial mengalami dampak buruk dari hegemoni budaya asing tersebut. Beragamnya latar belakang budaya, agama, dan tingkat sosial ekonomi masyarakatnya berpotensi melahirkan konflik, yang berpengaruh terhadap kerukunan kehidupan masyarakat. Rasio Jumlah penduduk muslim dan non muslim hampir sebanding. Di samping itu, jarak pemukiman penduduk dengan mesjid relatif jauh, serta terpisahkan oleh jalan raya yang padat, sehingga membahayakan para penyeberang jalan. Hal ini terbukti dengan seringnya terjadi kecelakaan yang menimpa jamaah yang hendak beribadah.

Mengingat permasalahan tersebut, kami, komunitas muslim yang berada di bantaran Kali Code, khususnya warga RW 35 dusun Ngemplak, dan RW. 32 Blunyah Gede, Desa Sinduadi, Mlati, Sleman, merasa terpanggil untuk melaksanakan pembinaan akhlakul karimah, merekat tali ukhuwah Islamiyah, dan mengembangkan syiar Islam, sehingga dapat menjadi komunitas muslim paripurna yang rahmatan lil alamin. Untuk tujuan tersebut, kami, pengurus Yayasan Al-Janah, sebuah yayasan yang dibentuk oleh masyarakat muslim di wilayah ini, merencanakan membangun sebuah mesjid yang dapat mewadahi semua aktivitas tersebut di atas.

B. Peran Masjid di Tengah Umat

Ketika Rasullullah SAW dan para sahabatnya hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau singgah di suatu tempat yang bernama Quba, di sana beliau membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Quba. Demikian juga, saat sampai di Madinah, beliau membangun Masjid Nabawi. Ini menyiratkan bahwa masjid bagi kaum muslimin memiliki kedudukan yang penting.

Arti pentingnya masjid bagi kaum muslimin dapat dijabarkan sebagai berikut.

  1. Masjid sebagai sarana pembina iman bagi kaum muslimin.

Di zaman Rasulullah SAW, masjid menjadi sarana untuk memperkokoh iman para sahabatnya. Di samping itu, masjid juga digunakan para sahabat sebagai sarana peribadatan dan mengkaji ajaran Islam.

Allah berfirman :

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan hari kemudian, serta tetap mendirikan Shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut ( kepada siapa pun ) selain Allah. Maka , merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” ( QS. At-Taubah : 18 )

  1. Masjid sebagai sarana memperkuat Ukhuwah Islamiyah.

Masjid merupakan tempat berkumpulnya anggota masyarakat untuk dibina menjadi masyarakat yang islami. Dengan pembinaan masyarakat melalui masjid itulah kaum muslimin menjadi terpaut hatinya kepada masjid , dan membuat kaum muslimin menjadi hati-hati agar tidak melakukan kesalahan, serta tidak berani menyimpang dari kebenaran.

  1. Majid sebagai sarana Tarbiyah.

Masjid sebagai tempat tarbiyah atau pendidikan, dan pembinaaan kaum muslimin. Dengan adanya tarbiyah, insya Allah kaum muslimin memiliki wawasan dan penguasaan ajaran Islam yang baik, sehingga dapat membedakan yang hak dan yang batil

C. Visi

Dengan membangun mesjid, dan menggunakan mesjid itu sesuai dengan syariat, Insya Allah akan terwujud masyarakat muslim yang berakhlak mulia ( Akhlakul Karimah ), sejahtera lahir dan batin dalam ikatan Ukhuwah Islamiyah, sehingga dapat menjadi rahmatan lil a’lamin.

D. Misi

Untuk mencapai tujuan tersebut, kami memiliki misi sebagai berikut.

1. Memberikan bimbingan dan pembinaan pada jamaah untuk meningkatkan pemahaman agama Islam

2. Memberikan pelayanan untuk keperluan-keperluan ritual agama Islam.

3. Membina jamaah agar memiliki akhlakul karimah.

4. Mengupayakan kesejahteraan jamaah baik secara material maupun spiritual.

5. Menfasilitasi jamaah dalam kajian-kajian keislaman, terutama menyangkut isu-isu kontemporer untuk menangkal pengaruh buruk budaya asing yang tidak sesuai.

E. Nama Mesjid serta Denah Lokasi

Mesjid yang akan dibangun akan diberi nama mesjid Al-Janah, yang terletak di wilayah RT. 02 , RW.35, dusun Ngemplak, Karang Jati, kelurahan Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.

F. Sumber Pembiayaan

Biaya pembangunan mesjid bersumber dari dana infaq, dan hibah masyarakat muslim yang berada di Yogyakarta, serta kota-kota lain yang sifatnya tidak mengikat. Di samping itu, dapat berupa hibah dari sumber-sumber di luar negri. Para pemberi hibah atau infaq dapat perorangan atau lembaga . Mohon disalurkan ke Yayasan Al-Jannah Sleman Yogyakarta Ac. No.: 520-01-00256-00-9 Bank Niaga Syariah Yogyakarta, Jl.Afandi ( Gejayan ) Yogyakarta.

Anggaran Biaya Pembangunan Masjid diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp. 450.053.174.-(empat ratus lima puluh juta lima puuh tiga ribu seratus tujuh puluh empat rupiah)

F. Penutup

Dengan mengucapkan bissmillah, seraya mengharap limpahan karunia serta ridla Allah SWT, kami bertekad dan merapatkan barisan untuk merealisasikan rencana pembanguan Masjid Al-Janah yang kehadirannya sangat dibutuhkan oleh komunitas muslim yang tinggal di bantaran Kali Code, khususnya oleh masyarakat RW. 35, Dusun Ngemplak Karang Jati, serta RW.32 Blunyah Gede, Desa Sinduadi, Mlati, Sleman. Untuk tujuan tersebut, kami, panitia pembangunan Mesjid Al-janah membutuhkan bantuan baik moril maupun materil dari sesama warga muslim baik yang tinggal di Yogya, maupun di kota-kota lainnya, termasuk yang bermukim di luar negri. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT, dan menjadi amal soleh sebagai investasi kita untuk memperoleh rumah di surga Al-Janah seperti yang dijanjikanNya. Amin, ya Robbal a’lamin.

Billahi taufiq wal hidayah

Wassalamua’laikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Yogyakarta, 15 Muharram 1429

Panitia Pembangunan Masjid Al-Jannah